Barangkali hanya di Korea Selatan ada hari libur untuk memperingati "proklamasi" abjad yang dikenal dengan sebutan Hangeul atau Hangul. Pemerintah Korea menetapkan bahwa setiap tanggal 9 Oktober, semua instansi libur untuk memperingati proklamasi abjad Korea yang diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung pada Dinasti Jeseon. Penetapan libur itu sebagai bentuk penghormatan Korea Selatan terhadap raja yang selama hidup dan pemerintahannya betul-betul memikirkan kesejahteraan rakyatnya, termasuk proses pembelajaran. Profesor Hyun-joo Kim, dosen pada Korea University, mengemukakan bahwa Hangul merupakan abjad dan bahasa Korea itu sangat jelas siapa pembuatnya, yakni Raja Sejong yang Agung. Ia menyebutkan pola pengucapan dari Hangul (abjad Korea) juga berdasarkan pada pola rongga mulut manusia sehingga sangat mudah untuk dipelajari. Hal itu berkat pengorbanan besar yang telah dilakukan oleh Raja Sejong yang Agung untuk menemukan huruf yang memudahkan bagi rakyatnya untuk belajar. Sementara dalam buku "Guide to Korean Culture" yang diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korsel diklaim bahwa Hangul merupakan salah satu huruf yang paling efisien di dunia dan telah banyak mendapatkan pujian dari para ahli bahasa untuk kegiatan ilmiah. Disebutkan bahwa Hangul pertama kali diproklamasikan bernama Hunminjeongeum, yang secara harfiah berarti "suara yang benar untuk petunjuk atau pelajaran pada rakyat". Raja Sejong yang Agung dianggap sebagai kekuatan pendorong dan salah satu penguasa terbesar dalam sejarah Korea. Raja yang sangat dihormati karena kebaikan hati dan ketekunannya. Raja itu juga seorang sarjana yang memiliki gairah pengetahuan dan bakat alami dalam semua bidang studi. Ketika Raja Sejong yang Agung tidak menjalankan tugas resminya, ia menikmati membaca dan bermeditasi. Kecintaan pada rakyat adalah landasan pemerintahannya (1418 - 1450) dan ia selalu siap untuk mendengarkan suara dari rakyat biasa. Dia adalah seorang pemimpin kebajikan dan kesejahteraan rakyat menjadi landasan semua formulasi kebijakannya. Pada masa itu, Raja Sejong yang Agung juga mendirikan Jiphyeonjeon, sebuah institut riset akademik. Tercatat, sarjana dari seluruh disiplin ilmu berkumpul di lembaga yang didirikannya itu dan terlibat dalam diskusi yang hidup dan menerbitkan berbagai buku. Pada masa pemerintahannya, Raja Sejong yang Agung "menyesalkan" fakta bahwa masyarakat umum, mengabaikan abjad China yang rumit dan hanya digunakan oleh orang berpendidikan, sementara masyarakat biasa tidak bisa membaca dan menulis. Dia memahami rasa frustasi masyarakat umum yang tidak mampu membaca atau mengomunikasikan pikiran dan perasaan mereka dalam bentuk tertulis. Tulisan China digunakan oleh kaum intelektual negara, tetapi menjadi terasa asing, tidak bisa sepenuhnya mengekspresikan kata-kata dan makna pikiran Korea dan bahasa lisan, sehingga mereka tidak punya cara untuk mengirimkan keluhan mereka kepada pihak yang berwenang, selain melalui komunikasi lisan. Selain itu mereka juga tidak punya cara untuk merekam ilmu tentang pertanian dan pengetahuan yang mereka telah diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun untuk diwariskan kepada anak cucunya. Raja Sejong yang Agung sebagai penguasa yang bijaksana sangat berdedikasi untuk mencari identitas nasional dan kemandirian budaya bangsanya dan segera mencari solusi. Ia mencari alfabet yang mudah dipelajari dan digunakan oleh masyarakat umum. Karena itulah kemudian Hunminjeongeum lahir. Sementara di buku cerita berjudul "Abjad Korea Hun Min Jeong Eum yang Indah" yang ditulis oleh Kim Hae Won menyebutkan Raja Sejong yang Agung memeriksa dan memperhatikan satu per satu bunyi dalam bahasa Korea saat menciptakan Hangul. Karena itu disebutkan meskipun Raja Agung Sejong sudah menciptakan Hun Min Jeong Eum, hasilnya tidak begitu saja langsung diperkenalkan kepada rakyat. Sebelum diumumkan secara luas, Raja Agung Sejong mempraktikkannya pada masyarakat yang terbatas untuk mengetahui apakah aksara ini layak dipakai untuk bangsa Korea. Kim Hae Won menjelaskan Raja Agung Sejong adalah salah seorang ahli bahasa yang unggul dalam sejarah dunia. Dijelaskan bahwa dalam buku "Hun Min Jeong Eum", Raja Agung Sejong menulis alasan-alasan pembuatan Hun Min Jeong Eum (sebelum bernama Hangul) dan bagaimana proses penciptaannya. Sebelum menciptakan Hangul, Raja Agung Sejong berfatwa. Isinya bagaimana ia memikirkan dan merasakan susahnya rakyatnya yang buta huruf karena kesulitan mempelajari aksara China. "Sebuah tulisan seharusnya mudah seperti mudahnya kita mengatakan sesuatu. Tetapi, orang Korea mengalami kesulitan menuliskan Kanji China, karena berbeda dengan ciri bahasa Korea. Dengan demikian orang Korea harus mempunyai tulisan sendiri yang sesuai dengan bahasa Korea. Oleh karena itu, Baginda akan menciptakan satu sistem tulisan abjad Korea, dan akan menyebarluaskannya kepada masyarakat," demikian fatwanya. Maman S Mahayana, dosen tamu pada "Hankuk University of Foreign Studies" (HUFS) melihat bagaimana pemimpin di Korea Selatan memiliki tanggung jawab besar dan kemudian mengambil tindakan nyata untuk memudahkan rakyatnya. "Ada nilai mengenai tanggung jawab besar seorang pemimpin dalam hal Hangul ini, sehingga Raja Agung Sejong betul-betul dihormati oleh rakyat Korea," kata dosen Universitas Indonesia itu. (*)
Berita Terkait
Korut kecam Korsel atas penyusupan drone pengintai
10 Januari 2026 14:30
Presiden Korsel tegaskan prinsip satu China jelang bertemu Xi Jinping
3 Januari 2026 16:15
Indonesia hadapi Irak dan Korea di Grup A Piala Asia Futsal 2026
3 Januari 2026 14:30
Korsel perpanjang pembebasan biaya visa untuk 6 negara, termasuk Indonesia
31 Desember 2025 16:24
Korsel buka akses publik ke media Korea Utara
30 Desember 2025 22:00
Kim Jong Un minta produksi rudal Korut ditambah
26 Desember 2025 23:00
Korea Utara serukan sikap teguh lawan tekanan Barat demi dunia multipolar
21 Desember 2025 11:12
Las Vegas Mobile Store hadirkan promo liburan ke Korea
26 November 2025 14:27
