"Nek gak isok ngewangi, ojok ngerepoti" (Kalau tidak bisa membantu, jangan membuat repot/menambah masalah)". Itulah ucapan khas Suroboyo-an dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam pengantar buku karyanya berjudul "Menyemai Kreator Peradaban" (Penerbit Zaman, Jakarta, halaman 12). Ucapan itu merujuk pada ungkapan mujtahid Imam Syafi'i yakni aku mencintai orang-orang yang saleh, meskipun aku bukan termasuk golongan mereka, aku hanya berharap mendapat kebaikan dari mencintainya, aku membenci orang-orang yang berbuat kerusakan dan dosa, meskipun aku dan mereka sama saja. "Seandainya kita belum mampu menjadi kontributor positif bagi bangsa, minimal kita mencintai mereka (para kontributor positif), jangan halangi mereka berbagi kemanfaatan dan kemaslahatan," ucap Nuh dalam pengantar bukunya itu. Dalam buku yang diluncurkan di Perpustakaan Yayasan Pendidikan Al-Islah, Gunung Anyar, Surabaya (13-10-2013) itu, menteri kelahiran Gunung Anyar, Surabaya, Jawa Timur, 17 Juni 1959, itu mengajak bangsa ini untuk memberi kontribusi positif bagi bangsa dengan menyemai benih-benih Generasi 2045. "Merekalah generasi 100 tahun Indonesia merdeka. Mereka harus memiliki tiga kompetensi, yakni kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Selain kompetensi itu, mereka harus diajari untuk cinta dan bangga menjadi Bangsa Indonesia, serta mampu memberi rahmat bagi alam semesta," tuturnya. Bagi mantan Direktur PENS dan Rektor ITS itu, pendidikan merupakan kunci dari kisah sukses siapapun, termasuk keluarga miskin, karena itu pendidikan ramah sosial harus menjadi kebijakan pemerintah (halaman 23). "Ada dua hal penting yang menentukan akses dalam pendidikan yakni ketersediaan (sekolah) dan keterjangkauan (biaya). Itulah penyebab anak putus sekolah, selain sekolah sebagai kebutuhan dasar masih belum menjadi tradisi," katanya (halaman 24). Untuk merealisasikan dua hal penting itulah, dirinya selaku Mendikbud menggulirkan BOS (bantuan operasional sekolah) untuk pendidikan dasar dan menengah serta BOPTN (bantuan operasional perguruan tinggi negeri) untuk pendidikan tinggi. Selain bantuan untuk sekolah/universitas, dirinya juga menggelontorkan bantuan untuk siswa/mahasiswa miskin yakni Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk siswa pendidikan dasar dan menengah serta Bidik Misi untuk siswa pendidikan tinggi (mahasiswa). "Awalnya, kebijakan itu kita atur melalui Permendikbud, terus kita tingkatkan melalui PP 66/2010, bahkan sekarang diperkuat lagi melalui UU 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi," kata alumni SDI Al Islah Gunung Anyar dan SMPI Wahid Hasyim itu (halaman 27). Intinya, UU Dikti mewajibkan perguruan tinggi untuk menyiapkan 20 persen kapasitas untuk kuota mahasiswanya bagi siswa tidak mampu. "Karena bentuknya UU, maka perguruan tinggi yang tidak melaksanakan akan berarti melanggar UU. Jadi, keberpihakan kita jelas dan mengikat," katanya. Pendidikan hati Pendidikan merupakan kunci sukses, karena pendidikan yang menekankan pada tiga kompetensi dan kecintaan kepada akan melahirkan generasi yang menyuburkan optimisme, mencerdaskan bangsa, dan mengatasi kegersangan sosial (halaman 104-122). "Seorang yang optimisme akan selalu mencari hikmah dan celah kesempatan di balik persoalan yang dia hadapi. Orang yang cerdas dalam kehidupannya tidak hanya salah menyalahkan, tidak mencari kredit poin untuk kepentingannya, tanggung jawabnya tidak lemah, dan tidak menempatkan diri lebih mulia daripada orang lain," katanya. Menurut dia, pendidikan yang seperti itu sangat mendesak, mengingat saat ini ada gejala kegersangan sosial, seperti berkurangnya kesantunan, kehangatan interaksi sosial, sensitivitas sosial, dan justru aksi kekerasan berkembang, termasuk kekerasan dalam berungkap. "Pendidikan memiliki peran sentral dalam membangun manusia yang utuh dan membangun tatanan sosial yang teduh. Di antara sekian banyak ranah pedagogik yang harus diberi perhatian khusus saat ini adalah ranah hati," katanya (halaman 119). Bagaimana cara mendidik hati? "Nabi mengajarkan untuk berlaku lembut kepada anak. Begitulah pedagogik hati yakni lewat keteladanan dan pembiasaan. Nabi berpesan, bantulah anak-anakmu berbuat baik. Siapa yang mau, keluarkan keduharkaan yang ada dalam diri sang anak," katanya (halaman 122). Untuk menunjukkan pentingnya pendidikan hal itu, Mohammad Nuh menuangkan sedari halaman 149 hingga halaman terakhir tentang ikhtiar membangun peradaban yang dimulai dari masa pembentukan diri dan menyemai masa pembentukan itu hingga membentuk peradaban. Pembentukan diri itu antara lain seperti yang dialaminya semasa kecil di kampung Gunung Anyar. Menteri yang anak seorang petani dan pekerja keras HM Nabhani (almarhum) itu mengutip pandangan ulama klasik Imam Tirmidzi untuk mengawali pembentukan karakter dengan menata hati. "Imam Tirmidzi menata hati dengan membagi hati dalam empat lapis yakni dada (shadr), hati (qalbu), hati kecil (fu'ad), dan lubuk hati (lubb). Untuk menata keempat lapis hati itu perlu lima pohon peradaban, yakni kasih sayang, jujur, syukur, sabar, dan ilmu," katanya (halaman 150-163). Tidak hanya itu, Mohammad Nuh juga mengungkap rahasia hidup sukses yang menjadi bagian dari masa kecilnya (masa pembentukan), yakni berbakti kepada orangtua, membiasakan shalat malam, rajin bershalawat, gemar berbagi, dan kerja keras. "Kala itu, suasana kampung di berbagai penjuru Nusantara. Pagi ke sekolah, siang ke tempat bermain (atau, istirahat), sore hingga bakda Isya ke langgar (mushalla/masjid). Saya sangat merindukan suasana kampung seperti itu, suasana dengan celupan moral-spiritual (shibghah Allah)," kata Nuh, mengenang (halaman 278). Lain di kampung (masyarakat) dan sekolah, lain pula di rumah (keluarga). Di rumah, Nuh semasa kecil mendapat "warisan" dari sang ayahanda yakni bacaan shalawat untuk ditiupkan kepada anak-anaknya di malam hari (suwuk) dan tradisi silaturrahmi. Tidak hanya silaturrahmi kepada kerabat, Nuh juga sering diajak sang ayahanda bersilaturrahmi kepada tokoh/kiai, di antaranya KH Abdul Hamid Pasuruan, KH As'ad Syamsul Arifin Asembagus-Situbondo, KH Abdul Jalil Mustaqim Tulungagung, KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi Kedinding-Surabaya, KH Abdullah Faqih Langitan-Tuban, KH Ahmad Tijani Sumenep, dan sebagainya (halaman 279-287). Kreator Indonesia 2045 Agaknya, pendidikan hati untuk masa pembentukan itulah yang mengilhami Mohammad Nuh untuk merancang Kurikulum 2013 yang merupakan ikhtiar menyemai Sang Kreator Peradaban untuk Indonesia 2045. "Pendidikan hati di masa pembentukan itu harus ditumbuhkan sejak jenjang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), karena merekalah yang akan menjadi pelaku utama pada 30-an tahun ke depan (2045)," ujar suami dari drg Laily Rachmati itu. Untuk itu, maka kurikulum (Kurikulum 2013) adalah pendidikan karakter. Ada tiga kelompok pendidikan karakter yakni pendidikan yang menumbuhkan kesadaran sebagai mahluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan yang terkait dengan keilmuan, dan pendidikan yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga menjadi orang Indonesia (halaman 19). Berangkat dari konsep itu, tutur alumni SDI Al Islah Gunung Anyar yang mendapat beasiswa S2 dan S3 di Prancis itu, maka Kurikulum 2013 menekankan pada pendidikan karakter dengan tiga kompetensi yakni sikap (sikap spiritual/ketuhanan dan sikap sosial/kebangsaan), pengetahuan, dan keterampilan. "Kurikulum 2013 bukan dirumuskan tanpa evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya. Contohnya, Laporan TIMSS 2011 bahwa kurang dari 70 persen materi pelajaran Matematika dan IPA yang telah diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP, maka kekurangan itu dilengkapi pada kurikulum yang baru itu," katanya (halaman 34). Karena karakter mulia itu meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, maka pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 akan dapat diwujudkan dengan tiga model yakni pengajaran/ketrampilan, keteladanan/modelling, dan pembiasaan/habituation (halaman 53). "Dengan ketiga model itu, maka standar evaluasi dalam Kurikulum 2013 juga bukan hanya kognitif, melainkan penilaian berbasis tes dan portofolio. Selain tes baku (ujian/rapor), guru juga menggunakan metode portofolio untuk mengamati para siswa, seperti perhatian, semangat, keterlibatan dalam diskusi, dan minat," urainya (halaman 95). Dalam kesan-kesan pada buku sang menteri untuk sang kreator itu, Rektor Unair Prof Fasich mengaku dirinya sangat mendukung kebijakan Mohammad Nuh sebagai Mendikbud untuk membuka kesempatan bagi mereka yang tidak berpunya menjadi memiliki masa depan lewat pendidikan. "Saya mendukung, karena saya dulu juga berasal dari keluarga yang tidak berpunya, kalau sekolah saya selalu dititipi 'marning' (jagung goreng) untuk dijual di kantin sekolah atau warung, lalu pulangnya bawa uang," katanya saat menghadiri peluncuran buku itu. Kesan senada diungkapkan Dirjen Pendidikan Menengah Kemendibud Achmad Jazidie. Sebagai "orang dekat" Mendikbud, ia menegaskan bahwa Mendikbud Mohammad Nuh merupakan orang yang selalu menggunakan pendekatan "scientific reasoning" untuk setiap kebijakan. "Sejak jadi aktivis, rektor, hingga jadi pejabat, saya kenal Pak Nuh selalu menggunakan pendekatan 'scientific reasoning' untuk setiap langkah, misalnya kebijakan Kurikulum 2013 itu selalu menggunakan argumentasi yang rasional. Itu khas beliau," katanya. Agaknya, isi buku "Menyemai Kreator Peradaban" yang belum dikelompokkan dalam bab itu sejalan dengan tujuan utama pendidikan untuk membentuk karakter yang baik, sebab kebaikan itu lebih penting daripada kepintaran, karena kebaikan akan mendorong kepintaran yang bermanfaat, sedangkan kepintaran belum tentu melahirkan kebaikan, apalagi kemanfaatan. (*)
Berita Terkait
Menteri Nadiem titipkan Merdeka Belajar kepada kabinet baru
18 Oktober 2024 16:11
Mendikbud sebut gelaran KILA di Surabaya perkuat ekosistem lagu anak
10 Maret 2024 18:37
Mendikbud tanda tangani SK Prodi Magister Manajemen Unars Situbondo
13 Oktober 2023 22:37
Dharma Wanita KJRI Perth ajak Mendikbud Australia Barat main angklung
31 Agustus 2022 09:28
Melihat implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka di Universitas Airlangga
24 Oktober 2021 12:02
Kunjungan ke Tebuireng Jombang, Nadiem Makarim menginap di kamar K.H. Hasyim Asyari
22 Oktober 2021 14:09
Mendikbud puji semangat perguruan tinggi di Jatim jalankan program MBKM
21 Oktober 2021 16:00
