Surabaya (AntaraJatim) - Sebanyak 60-an universitas dari Prancis dan 90-an universitas dari Indonesia menghadiri Pertemuan Tahunan Kerja Sama Prancis-Indonesia untuk Pendidikan Tinggi yang digelar Institute France Indonesia (IFI) dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Grha ITS Surabaya pada 10-11 Oktober 2013.
"Pertemuan yang disebut 'Joint Working Group' (JWG) itu merupakan pertemuan kelima yang rencananya dihadiri Mendikbud Mohammad Nuh, Dubes Prancis untuk Indonesia, delegasi dari 60-an institusi dari Prancis, dan delegasi dari 100-an institusi dari Indonesia," kata salah seorang panitia JWG Indonesia-Prancis, Dr Ir Ria Asih Aryani Soemitro MEng, di Surabaya, Rabu.
Menurut dia, puluhan institusi dari lembaga pendidikan, lembaga riset, dan kementerian terkait dari kedua negara itu akan membahas delapan isu kerja sama yakni kelautan, pengelolaan bencana alam, pelatihan profesional dan energi, pertanian dan kehutanan, kesehatan, manajemen, hukum, dan administrasi publik, sosial, humaniora, politik, pariwisata, dan seni, serta vokasi dan politeknik.
"Untuk tema vokasi dan politeknik, delegasi dari Prancis akan mengunjungi SMKN 1 Surabaya dan SMKN 6 Surabaya untuk menindaklanjuti kerja sama yang telah dibahas saat kepala sekolah dari kedua sekolah kejuruan itu berkunjung ke Prancis pada beberapa waktu lalu," kata dosen Teknik Sipil ITS Surabaya itu.
Ditanya bentuk implementasi dari kerja sama yang dilakukan, ia mengatakan kerja sama dapat dilakukan dalam bentuk "pertukaran" mahasiswa/dosen berbentuk ijazah ganda (joint degree), mobilitas dosen/mahasiswa berbentuk praktik lapangan atau kuliah tamu, proyek penelitian bersama, dan beasiswa.
"Bagi ITS, kerja sama yang kami prioritaskan adalah joint degree dan riset bersama. Tahun lalu, ada 20 mahasiswa S2 dan seorang mahasiswa S3 yang menempuh studi di Prancis, lalu tahun ini ada 15 mahasiswa S2 ke Prancis. Tahun lalu ada 16 mahasiswa yang sudah lulus," katanya.
Untuk riset bersama, ia mengatakan ITS telah melakukan penelitian bersama tentang kegempaan yang dilakukan peneliti S3 ITS dengan bimbingan dari sebuah universitas di Prancis. "Pada 16-17 Oktober, kami berencana mengadakan seminar Indonesia-Prancis tentang ICT, khususnya telekomunikasi," katanya.
Selain itu, seorang peneliti transportasi asal Prancis juga pernah melakukan kerja praktik di Dinas Perhubungan Provinsi Jatim dan memberikan kuliah tamu di ITS.
"Kerja sama itu memberi arti penting bagi ITS, karena kerja sama itu menunjukkan pengakuan pihak Prancis kepada kami, apalagi ada ijazah ganda yang dimiliki lulusan kami, karena itu kami sangat serius dengan kerja sama itu," katanya.
Bagi institusi pendidikan di Indonesia, kerja sama antara Indonesia-Prancis itu membuktikan adanya "program internasionalisasi" dalam dunia pendidikan di Indonesia, baik lembaga pendidikan, lembaga vokasi, lembaga riset, lembaga pemerintahan, maupun kalangan industri.
Sebelumnya (9/10), sebanyak 70 universitas dari 14 negara di Uni Eropa membidik mahasiswa dari Surabaya dan sekitarnya dengan menggelar Pameran Pendidikan Tinggi Eropa atau "European Higher Education Fair 2013" (EHEF-2013) di Surabaya.
"Kami sudah lima kali menggelar pameran pendidikan di Jakarta dengan pengunjung hingga 10.000 orang, maka kami sekarang menggelar pameran di Surabaya. Ini yang pertama kalinya di Surabaya," kata Wakil Dubes Uni Eropa untuk Indonesia dan ASEAN Colin Crooks saat membuka pameran pendidikan itu. (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026