Surabaya (Antara Jatim) - Sebanyak 70 universitas dari 14 negara di Uni Eropa membidik mahasiswa dari Surabaya dan sekitarnya dengan menggelar Pameran Pendidikan Tinggi Eropa atau "European Higher Education Fair 2013" di Surabaya, Rabu. "Kami sudah lima kali menggelar pameran pendidikan di Jakarta dengan pengunjung hingga 10.000 orang, kami sekarang menggelar pameran di Surabaya. Ini yang pertama kalinya di Surabaya," kata Wakil Dubes Uni Eropa untuk Indonesia dan ASEAN Colin Crooks. Didampingi konsultan pameran Gadizsa Zselamart setelah membuka pameran itu, ia menjelaskan pihaknya memilih Surabaya sebagai lokasi pameran, karena Kota Pahlawan Surabaya memiliki jumlah pelajar dan mahasiswa terbanyak kedua di Indonesia. "Dengan jumlah itu, kami melihat pelajar dan mahasiswa Surabaya dan Jatim memiliki potensi untuk kuliah di luar negeri, termasuk Uni Eropa, apalagi jumlah pelajar yang melanjutkan studi sarjana hingga pascasarjana di Eropa cenderung meningkat," katanya. Bahkan, peningkatan siswa/mahasiswa Indonesia yang studi di Eropa mencapai 30 persen, karena tahun sebelumnya hanya berkisar 4.000-an orang, tapi tahun ini mencapai 7.000-an orang. "Tahun ini, ada 29 mahasiswa Surabaya yang studi di Prancis," katanya. Sebaliknya, mahasiswa Eropa yang belajar di Indonesia juga banyak. "Kami tidak memiliki data rinci, tapi mahasiswa Eropa yang belajar di Indonesia antara lain dari Prancis, Inggris, Jerman, dan sebagainya," katanya. Apalagi, katanya, berbagai kalangan di Uni Eropa menyediakan 1.700 beasiswa dalam setiap tahun bagi mahasiswa Indonesia untuk kuliah di Eropa dengan beasiswa terbesar adalah Beasiswa Erasmus Mundus. "Untuk bidang studi yang bisa ditempuh juga beragam, baik ekonomi, sosial, budaya, teknik, dan sebagainya. Yang jelas, kuliah di Eropa itu tidak mahal, karena biaya kuliah bisa gratis. Kami juga memberi perlakuan yang sama untuk mahasiswa dari Eropa, Asia, dan sebagainya," katanya. Ia memberikan contoh sosok mantan Presiden RI BJ Habibie yang juga alumni mahasiswa Indonesia di Jerman. Sosok Habibie cukup terkenal di Eropa, apalagi kemampuannya dalam teknologi dunia penerbangan atau inovasi pembuatan pesawat terbang. "Uni Eropa peduli terhadap keberlanjutan pendidikan di Asia khususnya Indonesia, salah satunya adalah pemberian beasiswa. Bagi kami, ketidaksetaraan dalam keberagaman dan kualitas itu harus diatasi bersama, karena itu kami mendorong ada standar pelayanan minimum untuk pendidikan di Indonesia," katanya. Puluhan universitas yang mengikuti pameran pendidikan itu berasal dari belasan negara, di antaranya Austria, Belgia, Prancis, Jerman, Hungaria, Italia, Belanda, Slovakia, Inggris, Spanyol, Swedia, dan sebagainya. Secara terpisah, Institute France Indonesia (IFI) menggelar Pertemuan Tahunan Kerja Sama Prancis-Indonesia untuk Pendidikan Tinggi yang didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Grha ITS Surabaya pada 10-11 Oktober 2013. Rencananya, pertemuan dibuka Mendikbud Mohammad Nuh. "Pertemuan yang disebut 'Joint Working Group' (JWG) itu merupakan pertemuan kelima yang dihadiri 70 orang dari 60-an institusi Prancis dalam berbagai bidang pendidikan, seperti ekonomi, seni, sains, pertanian, kesehatan, ilmu sosial dan teknik. Dari Indonesia ada 100-an institusi," kata Asisten Direktur Pascasarjana ITS, Dr Ir Ria Asih Aryani Soemitro MEng. (*)


Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026