Surabaya (ANTARA) - Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa kembali menggaungkan perdamaian dunia kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Minggu.
Dalam kegiatan tersebut dibacakan Surat Pernyataan dan Imbauan Perdamaian Dunia dari Muslimat NU kepada PBB dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
"Jadi, sebetulnya kalau Harlah Muslimat ini pesannya adalah membangun perdamaian dunia. Ini tidak hanya dibacakan di sini saja, tapi juga di semua Harlah di seluruh Indonesia. Nantinya, seruan perdamaian ini akan kita sampaikan langsung kepada Sekjen PBB," ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, surat seruan perdamaian tersebut sebelumnya telah dikirimkan secara daring kepada PBB dan selanjutnya akan dikoordinasikan bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sebelum diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.
"Intinya, pesan perdamaian Muslimat NU kepada PBB adalah hentikan perang, bangun kesejukan dan kedamaian. Mudah-mudahan ini akan membawa dampak nyata ke depannya," kata Khofifah yang juga Gubernur Jawa Timur tersebut.
Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU dan Haul Ulama serta Pejuang Perempuan Pengurus Wilayah Muslimat NU Jawa Timur itu dihadiri ulama dan tokoh sufi dunia Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani serta lebih dari 15 ribu orang.
Khofifah menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani bersama keluarganya dalam rangkaian Harlah ke-80 Muslimat NU di Jawa Timur.
Sementara itu, Syeikh Afeefuddin menyampaikan apresiasi terhadap peran Muslimat NU dalam menjaga nilai-nilai keislaman, membentuk akhlak generasi muda, serta membangun keluarga yang kuat.
"Saya setiap kali hadir di sini, hadir di negara ini, negara yang penuh dengan damai dan aman, khususnya Jawa Timur ini, selalu ada berita yang datang dari tempat-tempat yang terjauh. Mereka datang untuk mengharapkan berkah. Mereka datang untuk mendapatkan mahabbah," ucapnya.
Dalam Mau'idhoh Hasanah, Syeikh Afeefuddin juga mengingatkan pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh negatif penggunaan gawai yang berlebihan.
"Maka, kewajiban kita sebagai orang tua, yaitu mendidik generasi muda anak-anak kita. Sehingga, ketika kita mendidik mereka dengan benar, mereka akan menjadi dai-dai, pengajar-pengajar, tidak hanya dengan lisan, tetapi dengan akhlak dan budi pekertinya," katanya.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026