Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur memperkuat kesiapsiagaan anomali cuaca seperti bencana banjir luapan Semeru di tengah musim kemarau yang terjadi di wilayah Kecamatan Sukodono pada Jumat dini hari.

"Hal itu menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat, bahwa ancaman bencana tidak selalu mengikuti siklus musim," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Isnugroho di kabupaten setempat.

Hujan deras di kawasan hulu Gunung Semeru terjadi sejak Kamis (14/5) malam menyebabkan debit sungai meningkat dan meluap ke sejumlah permukiman warga di Kecamatan Sukodono pada Jumat dini hari dan kini sudah surut.

"Kondisi itu menunjukkan bahwa cuaca ekstrem dapat terjadi sewaktu-waktu, meski wilayah telah memasuki musim kemarau," tuturnya.

Ia mengatakan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi seperti banjir luapan Gunung Semeru.

"Curah hujan di wilayah hulu cukup tinggi dan berlangsung lama sehingga menyebabkan debit air meningkat signifikan. Kondisi itu menjadi anomali cuaca yang perlu diwaspadai bersama," katanya.

Menurutnya wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai berhulu di Gunung Semeru memiliki potensi terdampak luapan apabila hujan ekstrem terjadi di kawasan pegunungan, sehingga kesiapsiagaan warga harus terus dibangun, termasuk memahami jalur evakuasi dan memperhatikan informasi resmi kebencanaan.

"Pemerintah Lumajang mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui sinergi BPBD, perangkat desa, Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), Media Center, dan jaringan humas pemerintah daerah," katanya.

Ia menjelaskan kolaborasi itu penting agar informasi yang diterima masyarakat cepat, akurat, serta mampu mencegah munculnya hoaks saat situasi darurat.

"Edukasi kebencanaan dinilai semakin penting di tengah perubahan iklim global yang mempengaruhi pola hujan. Masyarakat diharapkan tidak hanya waspada saat musim hujan, tetapi juga tetap siaga sepanjang tahun, terutama bagi wilayah yang berada di sekitar daerah aliran sungai," ujarnya.

BPBD Lumajang menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar respon saat kejadian, tetapi juga upaya membangun budaya sadar risiko melalui edukasi, ketepatan informasi, dan gotong royong masyarakat.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026