Lamongan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lamongan memperluas peserta Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) hingga melibatkan nenek, bibi dan pengasuh balita sebagai upaya mempercepat penurunan stunting dan memperkuat ketahanan keluarga.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lamongan dr. Aini Mas'idha mengatakan peserta SOTH tidak hanya diperuntukkan bagi ibu balita, tetapi juga pihak lain yang sehari-hari terlibat dalam pengasuhan anak.
“Peserta SOTH tidak hanya ibu dari balita, tetapi juga kami buka untuk bibi, nenek, pengasuh atau siapa pun yang sehari-harinya mengasuh balita,” katanya di Lamongan, Kamis.
Ia menjelaskan program tersebut dinilai mampu meningkatkan sikap positif, kesabaran dan kepercayaan diri dalam pengasuhan anak berdasarkan hasil penelitian Universitas Brawijaya terkait parental self-efficacy.
Menurut dia, pelaksanaan SOTH turut mendukung pembangunan keluarga berkualitas serta percepatan penurunan stunting di Kabupaten Lamongan hingga pada 2025 meraih peringkat kedua terbaik di Jawa Timur.
Sebagaimana diketahui, Sebanyak 285 peserta dari enam kecamatan dan 13 desa dinyatakan lulus dalam Wisuda SOTH Angkatan VII. Enam kecamatan tersebut meliputi Sukorame, Kedungpring, Deket, Sambeng, Lamongan dan Karangbinangun.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuronur Efendi menambahkan bahwa SOTH tidak hanya difokuskan pada penanganan stunting, tetapi juga membangun ketahanan keluarga sebagai fondasi ketahanan negara.
“SOTH ini tidak hanya ditujukan menyelesaikan persoalan stunting, tetapi bagaimana masyarakat Lamongan memiliki ketahanan keluarga yang baik untuk menciptakan generasi mendatang,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Lamongan juga melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan sejumlah organisasi dan perguruan tinggi sebagai upaya memperkuat kolaborasi dalam pembangunan keluarga dan perlindungan anak di daerah setempat.
Pemerintah daerah setempat menargetkan prevalensi stunting terus menurun pada 2026 melalui penguatan intervensi spesifik dan sensitif, menyusul capaian penurunan angka stunting yang menunjukkan tren positif pada 2025.
Berdasarkan data Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Lamongan, prevalensi stunting turun dari 9,4 persen pada 2023 menjadi 6,9 persen pada 2024. Sedangkan pada 2025 menjadi 4, 6 persen dan 2026 ditargetkan turun di bawah 4,06 persen.
Berbagai penguatan program pendampingan keluarga juga dijalankan, seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), serta kolaborasi lintas sektor.
Pewarta: Alimun KhakimEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026