Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Jatim Abdul Malik Ibrahim menekankan hubungan masyarakat (humas) atau public relations (PR) perlu memilih strategi yang tepat dalam menangani sebuah krisis agar citra instansi atau perusahaan tetap terjaga.

"Strategi yang tepat itu sangat penting untuk menangani krisis, dan harus diputuskan strateginya di awal-awal terjadinya krisis," katanya dalam HUT Ke-8 Tahun BPC Perhumas Surabaya Raya di Surabaya, Rabu.

Malik menyatakan kesalahan dalam memilih strategi justru akan berpotensi memperparah krisis yang sedang terjadi hingga berakibat menimbulkan krisis-krisis lainnya.

Selain ketepatan memilih strategi, kata dia, kecepatan juga sangat berpengaruh terhadap upaya penekanan suatu krisis.

Bahkan Malik menegaskan durasi waktu humas dalam merespon sebuah krisis akan mempengaruhi kepercayaan publik.

"Ini kalau dilihat dari sisi akademis sesuai dengan teori komunikasi krisis situasional (SCCT) dan teori atribusi," ujarnya.

Ia mencontohkan pada peristiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada 2022, yang diperlukan penanganan cepat setelah kejadian.

Dalam peristiwa itu, kata Malik, hasil studi Universitas Brawijaya menyebut bahwa pada awalnya digunakan pendekatan atau strategi defensif, yakni menunda komunikasi dan menjadikan pihak eksternal seperti infrastruktur stadion dan perilaku penonton sebagai penyebab kekacauan.

Namun, respon defensif justru menjadi bumerang, lantaran kepercayaan publik semakin terkikis.

Oleh karena itu, dalam peristiwa tersebut perlu melakukan pendekatan konsiliatif yaitu meminta maaf kepada publik, dan bersimpati.

"inkonsistensi strategi dan empati yang tertunda dalam sebuah krisis justru dapat melemahkan legitimasi institusional," katanya.

Sementara itu, dalam kegiatan HUT Ke-8 Tahun BPC Perhumas Surabaya Raya juga hadir beberapa narasumber yakni CEO NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradipha, Tribun Network Jatim Tri Mulyono, Beritajatim.com Saptini Darmaningrum, Ketua BPC Perhumas Surabaya Raya Indriani Siswati, serta para akademisi.



Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026