Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto dalam pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-48 ASEAN mengusulkan penyederhanaan mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) dan mengajak negara-negara anggota memanfaatkan pangan lokal untuk membangun cadangan pangan dan memperkuat ketahanan pangan kawasan.
Dalam forum tertinggi ASEAN itu, Presiden Prabowo menekankan ancaman krisis pangan yang disebabkan oleh banyak faktor, antara lain cuaca ekstrem dan dinamika geopolitik global, perlu diantisipasi dengan kerja sama dan kolaborasi antarbangsa.
"Ini bukan tantangan yang bisa ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama. Hal ini juga membutuhkan penyederhanaan ASEAN Plus Three (untuk) Cadangan Beras Darurat. Kita harus memajukan cadangan pangan berbasis cadangan lokal kita," kata Presiden Prabowo saat sesi pleno KTT Ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat, sebagaimana dikutip dari siaran resmi Sekretariat Presiden yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat siang.
ASEAN Plus Three Cadangan Beras Darurat (APTERR) yang disebut oleh Presiden Prabowo merupakan mekanisme permanen yang dibangun oleh ASEAN bersama tiga negara mitra, yaitu China, Jepang, dan Korea Selatan, khusus untuk kerja sama terkait cadangan beras. Kantor Sekretariat APTERR resmi beroperasi sejak tahun 2013 di Bangkok, Thailand.
Presiden Prabowo kemudian menekankan ketahanan pangan perlu menjadi upaya bersama ASEAN untuk menghadapi berbagai tantangan global. "Kita harus ingat bahwa wilayah kita memiliki jalur perdagangan strategis yang melewati perairan kita, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjadi gangguan di wilayah kita sendiri," kata Presiden Prabowo.
Kemudian, Presiden juga mengingatkan ancaman cuaca ekstrem akibat dampak El Nino yang telah diperingatkan oleh berbagai organisasi internasional. Oleh karena itu, Prabowo meyakini penguatan ketahanan pangan ASEAN pun semakin mendesak.
"Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Niño yang sangat ekstrem, yang mengingati di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak," kata Prabowo.
Dalam forum yang sama, Presiden kemudian menyampaikan kepemimpinan aktif pemerintah dibutuhkan dalam membangun ketahanan pangan. Pemerintah Indonesia, Presiden menekankan, berkomitmen bertanggung jawab penuh menjaga kedaulatan pangan nasional demi kesejahteraan masyarakat dan stabilitas negara.
"Bagi kami, ini adalah tanggung jawab utama pemerintah, dan Pemerintah Indonesia bertekad untuk memikul tanggung jawab penuh dan kedaulatan penuh atas sektor vital ini. Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada perdamaian,” ujar Presiden Prabowo.
Dalam sesi pleno KTT Ke-48 ASEAN, Presiden Prabowo didampingi beberapa pejabat negara yang duduk tepat di belakang Presiden. Jajaran pejabat itu, antara lain Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Pewarta: Genta Tenri MawangiEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026