Surabaya (ANTARA) -

Keberadaan Taman Harmoni Keputih di Surabaya, Jawa Timur, yang sebelumnya merupakan lahan tempat pembuangan akhir (TPA), saat ini menjadi salah satu alternatif wisata yang sekaligus ruang edukasi lingkungan.

“Taman ini menjadi tempat rekreasi dan sarana edukasi lingkungan, terutama bagi anak-anak dan pelajar yang berkunjung,” kata Koordinator pengelola Taman Harmoni, Bagus Ali Rohman, kepada ANTARA di Surabaya, Senin.

Bagus menjelaskan, fungsi edukasi di Taman Harmoni banyak dimanfaatkan oleh rombongan anak usia dini hingga sekolah dasar yang datang secara berkelompok dari wilayah Kota Surabaya.

Menurutnya, kunjungan anak-anak itu tidak hanya berorientasi pada aktivitas berwisata semata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung melalui interaksi dengan ruang terbuka hijau, satwa, serta elemen tematik yang ada di dalam kawasan.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak dikenalkan pada sejarah kawasan yang dulunya merupakan tempat pembuangan akhir (TPA) hingga bertransformasi menjadi taman kota, termasuk pengenalan budaya dari negara-negara lain.

Bagus menjelaskan, pengelolaan kawasan tersebut memiliki tantangan tersendiri mengingat karakter tanah yang merupakan bekas timbunan sampah. Tanah bekas timbunan sampah, lanjutnya, cenderung labil sehingga membutuhkan perhatian khusus.

Kondisi tersebut, menurutnya, tidak lepas dari sejarah kawasan yang sebelumnya merupakan TPA Keputih. TPA Keputih beroperasi sejak 1970-an dan akhirnya ditutup pada 2001 akibat semakin berkembangnya area permukiman di wilayah itu.

Bekas TPA Keputih tersebut, kemudian direvitalisasi dan ditanami pohon bambu untuk menyerap gas metana dan dilanjutkan pengurukan lahan pada 2008 hingga 2014, sebelum diresmikan menjadi taman pada 2019 dan diperbarui kembali pada 2025.

“Karena ini bekas TPA, tanahnya cenderung labil. Setelah hujan, tanah bisa bergerak sehingga beberapa jalur pedestrian harus diperbaiki. Setiap dua sampai tiga tahun juga dilakukan penambahan atau pengurukan tanah agar tetap stabil,” ujar Bagus.

Saat ini, taman seluas 8,5 hektare tersebut dibuka setiap hari pukul 06.00 hingga 17.00 WIB dengan akses gratis dan dilengkapi berbagai fasilitas seperti taman bunga, jalur pedestrian, hingga area terbuka yang kerap dimanfaatkan untuk aktivitas luar ruang. 

Selain itu, taman tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah koleksi satwa seperti kuda, rusa, hingga binatang seperti kelinci dan ayam kate di area edukasi.

Wajah baru Taman Harmoni kini mengusung tema “Harmony of the World” yang membagi kawasan dalam enam zona bertema benua yang menghadirkan pengalaman rekreasi edukatif dengan visual menarik.

Memasuki zona Asia, pengunjung disambut dengan koridor hutan bambu yang dilengkapi gerbang tori khas Jepang. Selain itu, juga ada replika gerbang Korea, patung gajah simbol India, hingga miniatur Dubai Frame, serta taman bunga berbentuk burung merak. 

Sementara di zona Afrika dan Timur Tengah menghadirkan nuansa padang pasir melalui replika Sphinx, rumah tradisional Afrika, dan balon udara ala Kapadokia. 

Kemudian, zona lainnya menampilkan miniatur bangunan klasik Eropa, area koboi dan suku Indian di Amerika, patung kanguru dan koala dari Australia, hingga replika igloo dan patung pinguin di Antartika.

Untuk menunjang kenyamanan, kawasan ini juga dilengkapi area kuliner Pasar Sorpring singkatan dari ngisor pring yang memiliki arti di bawah pohon bambu rindang dan menghadirkan berbagai makanan tradisional dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal.
 

Pengunjung berfoto di kawasan Taman Harmoni Keputih, Surabaya, Jawa Timur. ANTARA/Widya Chandrawati/vft.


Dosen Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Negeri Surabaya, Naimah Putri Kamila, menilai transformasi bekas TPA menjadi ruang terbuka hijau merupakan langkah cerdas dalam pembangunan berkelanjutan.

“Ini menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya bernilai negatif seperti TPA tetap bisa diubah menjadi ruang yang produktif dan bermanfaat, asalkan melalui kajian yang tepat,” kata dosen yang kerap disapa Mila itu.

Meski demikian, Mila menekankan bahwa revitalisasi bekas TPA tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan memerlukan kajian teknis yang mendalam. Menurutnya, apa yang dilakukan di Keputih tersebut, bisa direplikasi di kota-kota lain di Indonesia.

Replikasi tersebut, lanjutnya, bisa dilakukan di wilayah yang memiliki keterbatasan lahan, selama sejumlah persyaratan penting bisa dipenuhi, agar kawasan bisa tetap aman dan berfungsi optimal bagi masyarakat.

“Political will dari pemerintah daerah menjadi kunci utama, kemudian harus didukung dengan rekayasa teknik yang tepat serta pelibatan ahli dari berbagai disiplin seperti teknik sipil, geologi, dan perencanaan wilayah,” ujarnya. 

Dengan pengelolaan tersebut, Taman Harmoni tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan sekaligus representasi pemanfaatan kembali lahan eks TPA di kawasan perkotaan.

 

*) Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur



Pewarta: Widya Chandrawati *)
Editor : Vicki Febrianto

COPYRIGHT © ANTARA 2026