Ponorogo, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah melalui Kantor Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memastikan penanganan terhadap 13 orang jamaah umrah asal Ponorogo yang sempat tertahan di Jeddah, Arab Saudi, akibat penghentian sementara penerbangan menyusul perang Amerika Serikat-Iran di kawasan Timur Tengah.
Kepala Kantor Kemenhaj Ponorogo Marjuni, Kamis, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan biro perjalanan dan otoritas terkait begitu menerima laporan penundaan kepulangan jamaah.
"Begitu ada informasi penerbangan tertunda, kami berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan memantau kondisi jamaah. Alhamdulillah, informasi terakhir mereka sudah diterbangkan dari Jeddah dan transit melalui Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam," ujarnya.
Belasan jamaah tersebut merupakan peserta biro perjalanan Al Marwah. Selama menunggu kepastian jadwal penerbangan, mereka diinapkan di hotel dengan pengawasan dan tanggung jawab penuh dari pihak PPIU.
Sesuai ketentuan Kemenhaj, PPIU wajib menjamin keselamatan, akomodasi, dan konsumsi jamaah, apabila terjadi pembatalan atau penundaan penerbangan.
"Dalam kondisi force majeure seperti ini, penyelenggara wajib memastikan jamaah tetap aman dan terlayani sampai kembali ke tanah air," tegasnya.
Pihaknya juga melakukan pendataan dan pemantauan terhadap 38 orang jamaah asal Ponorogo lainnya yang saat ini masih menjalankan ibadah umrah dan dijadwalkan pulang pada 10 Maret mendatang.
Untuk mengantisipasi dampak lanjutan, Kemenhaj telah mengeluarkan imbauan kepada calon jamaah agar menunda keberangkatan sementara waktu demi keamanan.
Kantor Kemenhaj Ponorogo juga terus memperbarui informasi situasi penerbangan serta berkoordinasi dengan maskapai dan penyelenggara perjalanan.
"Kami terus memantau perkembangan dan memastikan seluruh jamaah asal Ponorogo dalam kondisi aman. Jika ada perubahan jadwal, akan segera kami informasikan," kata Marjuni.
