Alat baru itu akan ditempatkan di sejumlah terminal utama

Surabaya (ANTARA) - PT Pelindo Terminal Petikemas mendatangkan 39 unit alat bongkar muat baru untuk memperkuat layanan terminal peti kemas di sejumlah pelabuhan utama, dengan rencana kedatangan bertahap mulai semester II 2026.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan alat yang didatangkan terdiri atas 13 unit quay container crane (QCC) dan 26 unit rubber tyred gantry crane (RTG) untuk meningkatkan keandalan bongkar muat.

"Alat baru itu akan ditempatkan di sejumlah terminal utama seperti TPK Belawan di Sumatera Utara, TPS Surabaya di Jawa Timur dan TPK Semarang di Jawa Tengah," kata Widyaswendra dalam keterangannya di Surabaya, Senin.

Selain itu, kata dia alat bongkar muat baru juga akan didistribusikan ke TPK Panjang di Lampung, TPK Perawang di Riau, TPK Banjarmasin di Kalimantan Selatan, TPK Nilam di Jawa Timur, TPK Kendari di Sulawesi Tenggara, serta TPK Kijing di Kalimantan Barat.

Ia menambahkan perusahaan juga akan melakukan optimalisasi aset sejumlah alat QCC dan RTG untuk mendukung kehandalan bongkar muat di terminal lainnya, termasuk di TPK Berlian yang akan dilengkapi dua unit QCC.

“Selain mendatangkan alat baru, PT Pelindo Terminal Petikemas juga akan melakukan optimalisasi aset sejumlah alat baik QCC maupun RTG untuk mendukung kehandalan bongkar muat di terminal lainnya, seperti di TPK Berlian yang akan dilengkapi dengan dua unit QCC,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPP Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto menilai penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan di industri kepelabuhanan perlu terus didorong seiring pertumbuhan lalu lintas barang yang meningkat setiap tahun.

“Dukungan infrastruktur, peralatan dan sistem operasi pelabuhan, harus terus diperbarui agar distribusi logistik nasional lebih optimal,” kata Carmelita.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya menyoroti tantangan ketidakpastian regulasi, disparitas infrastruktur dan SDM antarwilayah, serta kebutuhan standarisasi layanan termasuk di pelabuhan.

“Semua pihak memiliki peran dalam mata rantai logistik untuk menghadirkan biaya logistik yang kompetitif, baik itu operator pelabuhan, jasa transportasi, hingga pergudangan,” katanya.



Pewarta: Naufal Ammar Imaduddin
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026