Kami pastikan tidak ada kapal antre hingga enam hari lamanya
Surabaya (ANTARA) - PT Pelindo Terminal Petikemas memastikan tidak ada antrean kapal hingga enam hari di sejumlah terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan memastikan pelayanan bongkar muat berjalan sesuai perencanaan.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan pelayanan bongkar muat peti kemas di TPK Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam, dan TPK Berlian berlangsung normal serta tidak menimbulkan keterlambatan signifikan yang berdampak pada jadwal sandar kapal.
“Kami pastikan tidak ada kapal antre hingga enam hari lamanya untuk menunggu pelayanan di terminal peti kemas yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak,” kata Widyaswendra dalam keterangannya di Surabaya, Senin.
Ia menjelaskan setiap kapal yang akan melakukan kegiatan di terminal peti kemas telah memiliki jadwal kedatangan yang terencana melalui sistem berthing window.
Selain itu, kata dia, pelayanan terhadap kapal diberikan berdasarkan kebijakan operasional terminal dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, aspek keselamatan, kondisi lapangan, serta kelancaran arus kapal secara keseluruhan.
Menurut dia, pada periode tertentu memang dapat terjadi kepadatan aktivitas di terminal peti kemas, seperti menjelang hari besar keagamaan, seiring meningkatnya volume muatan dan kunjungan kapal.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat berdampak pada pelayanan bongkar muat, namun pengelola terminal tetap berupaya menjaga layanan tetap optimal bagi pengguna jasa.
“Menunggu layanan ini dapat disebabkan beberapa faktor, bisa karena waktu kedatangan kapal lebih cepat atau terlambat, peningkatan muatan saat hari besar keagamaan, kecepatan bongkar muat dan kesiapan alat, hingga faktor alam seperti cuaca atau menunggu air pasang,” ujarnya.
Ia menambahkan sebagian besar kapal tiba sesuai jadwal dan dapat langsung memperoleh layanan.
Meskipun demikian, ia mengakui terdapat beberapa kondisi keterlambatan yang mengharuskan kapal menunggu, namun waktu tunggu layanan masih berada pada kisaran 15 hingga 30 jam.
Di sisi lain, pihaknya terus melakukan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Pada 2026, kata dia, TPS Surabaya direncanakan menerima tambahan empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG).
Sementara itu, TPK Berlian akan dilengkapi dua unit QCC yang diperkirakan tiba pada pertengahan 2026.
“Kami akui dalam hal pelayanan kami terus berbenah, perbaikan kami lakukan di seluruh wilayah kerja mulai dari Belawan hingga Merauke,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua DPC Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Surabaya Stenven Handry Lesawengan mengatakan pihaknya sempat menerima laporan keterlambatan bongkar muat di TPK Berlian akibat kesiapan alat, namun telah dikomunikasikan dengan pengelola terminal.
“Kami ada beberapa kesepakatan dengan terminal jika pada saat pelayanan ada kendala yang terjadi, sehingga kegiatan bongkar muat tetap dapat berjalan,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono meminta pengelola terminal melakukan peremajaan alat bongkar muat agar kecepatan dan kepastian layanan dapat terus terjaga.
“Kami sudah mendengar rencana kedatangan alat baru di TPS Surabaya, harapan kami hal serupa juga dapat dilakukan di terminal peti kemas lainnya, khususnya di TPK Berlian,” tutur Sebastian.
Pewarta: Naufal Ammar ImaduddinEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026