Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - PT Pelindo Terminal Petikemas selaku operator terminal peti kemas di Pelabuhan Merauke mencatat pertumbuhan peti kemas yang cukup signifikan yakni dalam dua tahun terakhir mencapai 14 persen.

Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani mengatakan arus peti kemas pada 2025 tercatat 52.715 TEUs atau tumbuh 14 persen dari 2024 yang tercatat 46.429 TEUs.

“Demikian halnya arus tahun 2024 tersebut juga tumbuh 14 persen dari 2023 yang tercatat 40.671 TEUs,” katanya dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.

Rasul menyebutkan telah melakukan beberapa upaya untuk peningkatan kapasitas di Pelabuhan Merauke yakni salah satunya perbaikan dan penataan lapangan penumpukan.

Penggunaan lapangan penumpukan untuk kegiatan stripping dan stuffing menjadikan yard occupancy ratio (YOR) atau tingkat keterisian lapangan penumpukan mencapai rata-rata 75 persen.

Dengan keberadaan depo di luar pelabuhan maka YOR dapat ditekan menjadi rata-rata 40 persen.

Perseroan juga mendatangkan sejumlah alat pendukung untuk kegiatan peti kemas di Pelabuhan Merauke.

Rasul menuturkan sudah ada penambahan satu unit side loader yang digunakan sebagai alat angkat peti kemas kosong sudah tiba beserta satu unit head truck dan chassis untuk alat angkut peti kemas.

Selanjutnya terdapat pula satu unit reach stacker dan dua unit head truck dan chassis yang saat ini sedang dalam tahap pengiriman.

"Kami sangat mendukung keberadaan depo di luar pelabuhan dengan demikian kapasitas lapangan penumpukan dapat optimal untuk kegiatan bongkar muat peti kemas yang setiap tahun semakin meningkat," katanya.

Ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/Indonesian Logistics & Forwarders Association) (ALFI/ILFA) Merauke Abi Bakri Alhamid mengatakan peningkatan pembangunan di Papua Selatan secara otomatis mendorong kenaikan arus logistik ke Merauke.

Ia menilai Merauke sudah harus memiliki depo peti kemas di luar area pelabuhan sebagai solusi jangka panjang karena distribusi kontainer dapat lebih terurai dan tidak menumpuk di dalam pelabuhan.

Selain itu, untuk jangka pendek, kontainer ke luar pelabuhan harus diberikan izin oleh pemerintah daerah agar bisa langsung keluar ke gudang distributor.

“Ini untuk mencegah terjadinya stagnasi di lapangan penumpukan yang ada di dalam pelabuhan,” katanya.

Kepala PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Cabang Merauke Puji Hermoko mengatakan lapangan penumpukan di dalam Pelabuhan Merauke sudah cukup padat.

Menurutnya, keberadaan depo peti kemas di luar pelabuhan menjadi solusi yang mendesak untuk mengurai kepadatan sekaligus memperlancar distribusi barang di wilayah timur Indonesia.

Kepala Kantor Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Merauke Julivan Ch. L. Salindeho menambahkan, kegiatan stripping dan stuffing hingga kini memang masih dilakukan di dalam area pelabuhan.

Karena itu, KSOP bersama Pelindo, pemerintah daerah, perusahaan pelayaran, serta pelaku usaha Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) menyiapkan depo peti kemas di luar pelabuhan agar aktivitas stuffing dan stripping dipindahkan keluar pelabuhan.

Dengan demikian, kapasitas lapangan penumpukan di dalam pelabuhan dapat dioptimalkan untuk mempercepat proses bongkar muat dari dan ke kapal.

“Walaupun luasnya 1,5 hektar, yang bisa berfungsi optimal untuk lapangan penumpukan hanya sekitar 1 sampai 1,2 hektar,” kata Julivan.



Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026