Magetan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan Presiden Prabowo Subianto terkait proyek "gentengisasi" sebagai bagian dari upaya penataan lingkungan yang lebih luas serta memperindah wajah Indonesia.

"Imbauan atau gagasan Presiden Prabowo soal gentengisasi ini momentumnya sudah benar. Harapannya ini bergaung dan disambut oleh berbagai elemen masyarakat," ujar Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro di Magetan, Jawa Timur, Sabtu.

Pihaknya mengaku mendukung gagasan tersebut terlebih di Kabupaten Magetan memiliki desa sentra pembuatan genteng yang kebanyakan warganya bekerja sebagai perajin genteng. Untuk itu, dia menegaskan bahwa arahan Presiden Prabowo tersebut akan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Magetan.

Kendati demikian, pihaknya belum dapat menentukan penerapan kebijakan program tersebut karena terdapat sejumlah kendala di daerah.

"Untuk Magetan, meski telah ada sentra, kendala terbesarnya adalah kesulitan bahan baku tanah liat atau tanah lempung untuk membuat genteng," kata dia.

Ia menjelaskan meski sangat mendukung, namun pelaksanaan program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, baik di tingkat pusat hingga daerah agar tujuan dan multi efeknya dapat memberikan manfaat secara luas.

Sesuai data BPS setempat, Kabupaten Magetan memiliki sentra produksi genteng tanah liat yang terdapat di Kecamatan Maospati, Barat, dan Bendo, di antaranya di Desa Gulun (Maospati) dan Desa Karangsono (Barat). Terdapat sekitar 1.600-an industri kecil pembuatan genteng di wilayah tersebut yang menyerap tenaga kerja warga sekitar 4.068 orang.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginginkan adanya gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng berbahan tanah liat atau "gentengisasi" sebagai bagian dari upaya penataan lingkungan yang lebih luas serta memperindah wajah Indonesia.

Saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Presiden mengatakan penggunaan atap seng masih banyak mendominasi rumah-rumah di Indonesia. Hal itu tidak hanya membuat lingkungan terlihat kurang indah, tetapi juga berdampak pada kenyamanan penghuni rumah karena cenderung panas dan mudah berkarat.

Gagasan proyek gentengisasi nasional itu, menurut Presiden akan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai ujung tombak produksi.

Nantinya, koperasi akan dilengkapi dengan pabrik genteng skala lokal, dengan peralatan yang relatif terjangkau. Selain itu, bahan baku yang digunakan juga mudah diperoleh karena berasal dari tanah yang dapat dicampur dengan bahan lain sehingga lebih ringan dan kuat.

Presiden berharap dalam dua hingga tiga tahun ke depan, wajah Indonesia akan berubah lebih indah, serta terbebas dari atap-atap seng berkarat yang dinilai sebagai simbol kemunduran.

 

 



Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026