Jakarta (ANTARA) -
Film The Devil Wears Prada 2 yang hadir hampir dua dekade setelah film pertamanya, membawa satu pertanyaan yang lebih sempit namun relevan: Apakah majalah fashion seperti Runway masih bisa bertahan di tengah dominasi media digital?
Sekuel ini melanjutkan kisah majalah Runway yang kini berada di bawah tekanan besar. Jika pada film pertama The Devil Wears Prada, Runway digambarkan sebagai simbol kejayaan media cetak, kali ini posisinya jauh lebih rapuh. Ancaman kebangkrutan muncul seiring pergeseran ke platform digital, perubahan pola konsumsi informasi, dan dominasi media sosial dalam membentuk tren.
Isu ini terasa dekat dengan kondisi nyata. Banyak media cetak global mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir. Majalah fashion yang dulu menjadi kiblat tren kini harus bersaing dengan influencer, konten viral, dan algoritma.
Andy Sachs yang diperankan oleh Anne Hathaway kini berdiri di sisi yang dulu ia pertanyakan. Dalam The Devil Wears Prada 2, ia menjadi bagian dari upaya mempertahankan Runway yang berada di ambang runtuh, di tengah perubahan industri yang tidak lagi berpihak pada media lama.
Miranda Priestly yang dimainkan oleh Meryl Streep, tetap menjadi pusat kendali dalam cerita. Karakter ini masih mempertahankan aura dingin dan tegas yang menjadi ciri khasnya. Namun, ada perubahan pendekatan yang terasa jelas. Lingkungan kerja yang dulu permisif terhadap perilaku otoriter, kini mulai berubah.
Film ini menyisipkan isu kesejahteraan pekerja melalui detail yang halus. Miranda tidak lagi bersikap semena-mena seperti sebelumnya. Dalam beberapa adegan, asistennya yang diperankan oleh Simone Ashley, memberi sinyal agar ia lebih berhati-hati saat berbicara dalam rapat. Ini menunjukkan adanya pergeseran budaya kerja, di mana batas profesional semakin diperhatikan.
Pendekatan ini menarik karena tidak disampaikan secara eksplisit. Tidak ada dialog panjang yang menggurui. Perubahan justru terasa dari interaksi kecil antar karakter. Ini membuat isu yang diangkat terasa lebih natural.
Penampilan Anne Hathaway dan Meryl Streep tetap menjadi poros utama film. Anne Hathaway menghadirkan Andy yang lebih matang, dengan ekspresi dan gestur yang mencerminkan perjalanan panjang karakternya di dunia kerja.
Meryl Streep masih konsisten sebagai Miranda Priestly. Karakternya tetap dingin dan penuh kontrol, namun kini terasa lebih menyesuaikan dengan perubahan lingkungan kerja.
Performa keduanya semakin kuat dengan kehadiran Emily Blunt dan Stanley Tucci. Emily Blunt kembali dengan karakter yang tajam dan cepat, menjaga ritme interaksi tetap dinamis. Stanley Tucci memberi keseimbangan lewat pendekatan yang lebih tenang dan reflektif.
Interaksi keempatnya membuat dinamika Runway terasa lebih hidup, dengan relasi yang tidak lagi sederhana, tetapi penuh lapisan.
Film ini tetap mengandalkan fashion sebagai daya tarik utama. Setiap outfit dirancang dengan detail tinggi dan memiliki karakter yang kuat.
Banyak tampilan yang berpotensi menjadi referensi tren, seperti yang terjadi pada film pertama. Ini menunjukkan bahwa film tetap memahami identitasnya sebagai bagian dari kultur fashion.
Selain konflik eksternal terkait industri, film ini juga menghadirkan konflik internal yang kuat. Elemen pengkhianatan kembali digunakan sebagai penggerak cerita. Seperti pada film pertama, dinamika kepercayaan menjadi isu penting.
Namun, pendekatan dalam sekuel ini terasa lebih tidak terduga. Arah konflik tidak mudah ditebak dan memberikan kejutan bagi penonton. Elemen ini menjadi salah satu faktor yang menjaga ketegangan cerita hingga akhir.
Selain itu, film The Devil Wears Prada 2 tidak hanya mengandalkan kekuatan cerita dan karakter lama, tetapi juga memperkaya pengalaman menonton lewat deretan cameo yang membuat perhatian.
Sekuel ini menghadirkan puluhan cameo dari berbagai bidang, mulai dari fashion, musik, media, hingga pop culture. Jumlahnya bahkan disebut mencapai lebih dari 40 figur publik, menjadikannya salah satu film dengan cameo terbanyak dalam genre drama fashion.
Yang menarik, cameo ini tidak terasa asal tempel. Mereka muncul dalam konteks yang masuk akal, seperti fashion show, event industri, hingga pertemuan bisnis. Ini membuat dunia Runway terasa lebih hidup dan kredibel.
Beberapa nama besar dari industri fashion hadir sebagai diri mereka sendiri. Sosok seperti Donatella Versace, Marc Jacobs, hingga supermodel seperti Naomi Campbell dan Heidi Klum muncul dalam berbagai adegan. Kehadiran mereka memperkuat posisi film sebagai representasi dunia fashion global.
Sementara itu, Lady Gaga tampil sebagai dirinya sendiri dan bahkan berinteraksi langsung dengan Miranda Priestly dalam salah satu adegan. Momen ini menjadi salah satu cameo yang paling mencuri perhatian karena memberi kesan bahwa Miranda tetap menjadi figur berpengaruh bahkan di level selebritas global.
Namun, ada satu hal yang justru jadi pembicaraan. Anna Wintour, sosok yang sering dianggap inspirasi karakter Miranda, tidak muncul dalam versi final film meski sempat direncanakan. Ketidakhadirannya justru dianggap menjaga “misteri” yang selama ini melekat pada figur tersebut.
Di satu sisi, film ini tetap menjadi tontonan yang menghibur dengan visual yang kuat. Di sisi lain, ada upaya untuk menghadirkan refleksi terhadap perubahan industri media dan budaya kerja.
Pendekatan ini membuat film terasa lebih dewasa. Tidak lagi sekadar drama tentang ambisi dan karier, tetapi juga tentang adaptasi terhadap perubahan.
Film ini tetap ramah untuk penonton baru. Cerita dapat diikuti tanpa harus memahami seluruh detail film sebelumnya. Namun, bagi penonton lama, ada nilai tambah berupa nostalgia dan perkembangan karakter.
Pewarta: Farika Nur KhotimahEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026