Surabaya (ANTARA) - Perusahaan farmasi Daewoong Pharmaceutical Indonesia meluncurkan terapi kombinasi dosis tetap (fixed-dose combination/FDC) untuk pengobatan dislipidemia di Surabaya, setelah sebelumnya diperkenalkan di Jakarta.
Dalam peluncuran di Surabaya ini, Daewoong menyelenggarakan Dyslipidemia Treatment Surabaya Regional Launch Symposium yang dihadiri lebih dari 100 tenaga medis Jawa Timur.
Kegiatan itu menyoroti strategi optimal dalam pengelolaan LDL-C (low-density lipoprotein cholesterol) serta membahas perkembangan klinis terbaru terkait terapi kombinasi dua mekanisme antara ezetimibe dan rosuvastatin.
Endokrinolog di RSUD Dr. Soetomo Dr. dr. Soebagijo Adi, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, FACP dalam kegiatan itu di Surabaya, Minggu mengatakan, ketika disertai diabetes, risiko penyakit kardiometabolik meningkat secara signifikan.
"Sehingga, memerlukan pengelolaan kolesterol yang lebih ketat," katanya.
Ia mengatakan, monoterapi statin sering kali memiliki keterbatasan dalam mencapai target LDL-C pada pasien diabetes.
"Sehingga, terapi kombinasi sejak dini, yang secara simultan menghambat sintesis dan absorpsi kolesterol menjadi strategi yang sangat penting," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Surabaya Dr. dr. Suryono, Sp.JP (K), FIHA, menyampaikan dalam praktik klinis sehari-hari, pengobatan kerap kali belum optimal atau tidak terkontrol dengan baik.
"Terapi dislipidemia berbasis kombinasi dosis rendah dari Daewoong akan berperan penting dalam menjawab tantangan kompleks penyakit kardiometabolik," ucapnya.
Kepala Divisi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSUD Dr. Soetomo, Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP (K), FIHA mengatakan, 91,5 persen pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C kategori risiko sangat tinggi, yaitu 55 mg/dL.
"Dalam konteks ini, terapi kombinasi sejak dini dengan efektivitas yang telah terbukti merupakan strategi rasional untuk menjembatani kesenjangan terapi dan secara signifikan meningkatkan prognosis pasien," tuturnya.
