Dari sisi densitas energi, nuklir sangat unggul. Dengan bahan bakar yang relatif kecil, listrik yang dihasilkan bisa sangat besar dan stabil.

Surabaya (ANTARA) - Sejumlah akademisi di Surabaya, Jawa Timur, mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari strategi swasembada energi nasional, seiring ditunjuknya Menteri Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN).

Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ary Bachtiar Krishna Putra mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memiliki keunggulan teknis signifikan dibandingkan sumber energi konvensional, terutama dari sisi kapasitas dan keberlanjutan pasokan.

“Dari sisi densitas energi, nuklir sangat unggul. Dengan bahan bakar yang relatif kecil, listrik yang dihasilkan bisa sangat besar dan stabil,” ujar Ary dalam diskusi Swasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi di Surabaya, Minggu.

Ia menambahkan, PLTN juga termasuk energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida dalam proses pembangkitannya.

Hal tersebut membuat energi nuklir sejalan dengan target penurunan emisi nasional dan agenda transisi energi.

Menurut Ary, tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan terletak pada teknologi, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur pendukung, serta integrasi dengan kawasan industri.

Dari sisi ekonomi makro, ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono menilai energi nuklir berpotensi memperkuat fiskal negara dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selama ini, impor energi menjadi salah satu faktor yang membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta neraca perdagangan.

Ia optimistis keberadaan PLTN dapat membantu pemerintah mewujudkan target elektrifikasi 100 persen, khususnya di wilayah Indonesia timur yang masih minim akses listrik.

Hendry juga mendukung penunjukan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian DEN karena dinilai dapat mempercepat eksekusi kebijakan swasembada energi.

Sementara itu, dosen kebijakan publik Unesa Ahmad Nizar Hilmi menilai rangkap jabatan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) sebagai Ketua Harian DEN mencerminkan keinginan pemerintah untuk menyatukan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan energi dalam satu garis komando.

Namun demikian, Nizar mengingatkan pentingnya tata kelola dan transparansi, terutama dalam proyek strategis energi bernilai investasi besar.

Pemerintah, menurut dia, perlu membuka informasi kepada publik terkait aktor industri dan penyedia teknologi di balik kebijakan swasembada energi.

Terkait pengembangan PLTN, Nizar menilai wacana energi nuklir semakin relevan, terlebih Indonesia memiliki cadangan uranium di Kalimantan Barat.

Meski demikian, ia menekankan faktor keselamatan dan edukasi publik harus menjadi prioritas utama pemerintah.



Pewarta: Faizal Falakki
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026