Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendorong adanya riset dan inovasi yang berdampak menyusul dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya yang kini resmi beroperasi sebagai Perangkat Daerah (PD) mandiri.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Kota Surabaya, Selasa, mengatakan lembaga ini terpisah dari Bappedalitbang yang kini bertransformasi menjadi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dengan urusan penelitian dan pengembangan (litbang) sepenuhnya dijalankan dan diperluas oleh BRIDA.
Ia mengatakan pembentukan BRIDA merupakan kebutuhan mendesak bagi kota metropolitan seperti Surabaya. Ia menekankan BRIDA bukan sekadar penambahan struktur birokrasi, melainkan berfungsi sebagai pusat analisis strategis sebelum kebijakan dan anggaran ditetapkan.
"Tantangan Surabaya di tahun 2026 makin kompleks. Kita tidak bisa lagi membangun hanya pakai ilmu kira-kira atau kebiasaan lama. BRIDA adalah dapur-nya. Harapan saya, BRIDA memastikan setiap rupiah APBD menghasilkan solusi konkret. Risetnya jangan menumpuk di laci, tapi harus jadi aplikasi atau kebijakan yang dirasakan warga Surabaya," ujarnya.
Salah satu perubahan signifikan dalam struktur baru ini adalah bergabungnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Mangrove secara langsung di bawah naungan BRIDA. Kebijakan tersebut mengubah paradigma pengelolaan kawasan Mangrove Gunung Anyar dan Wonorejo.
"Kawasan ini tidak lagi semata diposisikan sebagai destinasi wisata alam, melainkan sebagai pusat riset konservasi berstandar internasional," ujarnya.
Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji menjelaskan integrasi tersebut bertujuan mengembalikan fungsi dan marwah Kebun Raya sesuai standar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Kebun Raya Mangrove kini punya mandat ilmiah yang kuat. Di bawah BRIDA, kami fokus menjadikannya pusat studi blue carbon (karbon biru) dan benteng ekologi kota. Surabaya akan menjadi pilot project nasional bagaimana kota pesisir memanfaatkan mangrove untuk mitigasi perubahan iklim sekaligus potensi ekonomi karbon," kata Agus.
Agus memaparkan bahwa BRIDA dirancang sebagai agregator ekosistem riset dan inovasi. Surabaya yang dikenal memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas serta industri strategis, selama ini menyimpan potensi riset besar yang belum terintegrasi secara optimal. Kehadiran BRIDA diharapkan mampu menyinergikan berbagai potensi tersebut.
Untuk memperkuat kolaborasi, BRIDA Surabaya meningkatkan model kerja sama dari konsep pentahelix menjadi heptahelix. Dalam skema ini, terdapat tujuh elemen utama yang saling terhubung, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media, serta dua elemen tambahan yang dinilai krusial, yaitu komunitas dan pengguna (user).
"Banyak riset kampus yang bagus, tapi berhenti di tengah jalan, karena tidak ada biaya produksi atau tidak selaras dengan daya dukung alam. Sebagai agregator, BRIDA bertugas melakukan matchmaking. Kami menghubungkan peneliti dengan lembaga pendanaan agar inovasi bisa dihilirisasi," katanya.
