Surabaya (ANTARA) - Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Supangat, PhD menilai upaya China mengembangkan teknologi chip secara mandiri di tengah keterbatasan akses global justru mendorong lahirnya inovasi baru berbasis pemahaman teknologi inti dan rekayasa berkelanjutan.
“Ketika akses terhadap teknologi utama dibatasi, inovasi tidak berhenti. Justru kondisi itu memaksa insinyur memahami sistem secara mendalam dan mencari pendekatan alternatif yang lebih mandiri,” kata Supangat di Surabaya, Jumat.
Ia menjelaskan chip semikonduktor merupakan komponen inti hampir seluruh teknologi modern, mulai dari telepon pintar, pusat data, hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Untuk memproduksi chip tercanggih, industri global saat ini bergantung pada mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV).
Mesin EUV bekerja dengan tingkat presisi sangat tinggi untuk mencetak pola sirkuit berukuran sangat kecil, bahkan lebih kecil dari virus.
Proses tersebut menuntut kondisi hampir sempurna, tanpa getaran, dengan suhu yang sangat stabil serta penguasaan fisika cahaya dan material tingkat lanjut.
Menurut Supangat, ketergantungan global pada satu jenis teknologi litografi menjadi titik lemah sistem industri semikonduktor.
Ketika satu teknologi menjadi penentu utama, ekosistem inovasi menjadi kurang fleksibel dan rentan terhadap pembatasan akses.
“Kondisi inilah yang mendorong berbagai pihak mengembangkan teknologi alternatif. Membangun mesin dari nol memang tidak mudah, tetapi proses itu menghasilkan pemahaman sistem yang jauh lebih kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan dalam konteks pengembangan AI, keterbatasan akses terhadap chip tercanggih mendorong lahirnya pendekatan baru, seperti perancangan prosesor modular, penggabungan berbagai jenis pemrosesan, serta optimalisasi perangkat lunak agar lebih efisien dalam penggunaan sumber daya.
Pendekatan tersebut, kata dia, membuka peluang agar AI tidak hanya bergantung pada chip berukuran paling kecil dan mahal, melainkan pada desain sistem yang cerdas dan adaptif.
Supangat juga menilai, makna negara adidaya dalam bidang teknologi terletak pada kemampuan menguasai teknologi inti, mulai dari perancangan mesin, pemahaman material, pengendalian sistem presisi, hingga pembangunan ekosistem teknologi secara menyeluruh.
“Penguasaan teknologi dasar membedakan antara pengguna dan pencipta teknologi. Negara yang menguasainya mampu menentukan arah inovasi dan beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan,” katanya.
Ia menekankan perkembangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan tinggi agar pembelajaran teknologi tidak hanya berfokus pada penggunaan alat tercanggih, tetapi juga pada pemahaman prinsip dasar dan kemampuan rekayasa.
“Teknologi akan terus berubah, tetapi pemahaman sistem akan selalu relevan. Sejarah menunjukkan inovasi sering lahir dari keterbatasan, bukan dari kenyamanan,” ujarnya.
Warek II Untag Surabaya nilai teknologi chip China dorong inovasi
Jumat, 2 Januari 2026 18:22 WIB
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Supangat Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA. (ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi)
Ketika akses terhadap teknologi utama dibatasi, inovasi tidak berhenti
