Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memperkuat strategi pencegahan dan pengendalian narkoba berbasis komunitas dan lembaga pemasyarakatan sepanjang 2025 sebagai upaya menekan peredaran narkotika secara sistemik.
Plt Kepala BNN Kabupaten Tulungagung AKBP Damar Bastiar Amarapit, Selasa, mengatakan pendekatan pencegahan menjadi prioritas utama melalui penguatan ketahanan sosial masyarakat dan pengawasan terintegrasi di lembaga pemasyarakatan.
"Upaya P4GN kami arahkan pada pencegahan dini berbasis desa, penguatan relawan, serta pengawasan ketat di lapas untuk memutus mata rantai peredaran narkoba," kata AKBP Damar di Tulungagung.
BNN Tulungagung menetapkan Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, sebagai Desa Bersih Narkoba (Bersinar) dan membentuk 74 relawan anti narkoba serta 60 penggiat P4GN yang aktif melakukan edukasi di lingkungan masing-masing.
Selain itu, BNN menggelar 146 kegiatan sosialisasi tatap muka dengan jangkauan lebih dari 36 ribu orang, serta memanfaatkan media digital untuk kampanye pencegahan dengan jutaan penayangan sepanjang tahun.
Pada aspek penindakan, BNN Tulungagung melaksanakan Tim Asesmen Terpadu (TAT) terhadap 27 klien.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 21 orang direkomendasikan menjalani rehabilitasi, empat orang menjalani rehabilitasi disertai proses hukum, dan dua orang diproses hukum.
Razia gabungan juga dilakukan secara berkala di tempat hiburan malam, rumah kos, serta melalui tes urine sopir angkutan umum.
BNN Tulungagung juga mengembangkan inovasi Pengawasan Terpadu di Lembaga Pemasyarakatan (PADI LAPAS) yang dinilai efektif menekan penyelundupan narkotika.
Sejak diterapkan, kasus penyelundupan narkoba ke dalam lapas menurun lebih dari 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di bidang pemulihan, BNN Kabupaten Tulungagung memberikan layanan rehabilitasi rawat jalan kepada 43 klien sepanjang 2025.
Hasil pengukuran kualitas hidup klien mencapai 88 persen, melampaui target yang ditetapkan, dengan indeks kepuasan penerima layanan berada pada kategori baik.
AKBP Damar menegaskan capaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat.
"Penguatan sinergi menjadi kunci. Pencegahan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan penindakan, tetapi harus dibangun bersama dari desa, sekolah, hingga lapas," ujarnya.
