Surabaya (ANTARA) - Honorary Founding Chairman Indonesia Marketing Association (IMA) Hermawan Kartajaya menyatakan tahun 2026 akan menjadi era kolaborasi yang lebih kuat seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kalau AI makin canggih, tetapi manusianya tidak berkolaborasi, justru akan bingung sendiri. Karena itu, kolaborasi adalah kunci untuk menjadi lebih kuat,” ujar Hermawan dalam Studium Generale Rakernas IMA di Universitas Surabaya (Ubaya), Jumat.
Ia mengatakan tema besar yang dibawanya, Rising and Collaborating for a Stronger Economy, sejalan dengan kebutuhan memperkuat kerja sama di tengah transformasi digital.
Hermawan juga menyinggung penyelenggaraan MarkPlus Conference yang tahun ini memasuki edisi ke-20 dengan sekitar 5.000 peserta dan 50 pembicara.
Menurutnya, selain AI, Indonesia perlu belajar dari perkembangan China. Ia menilai langkah Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menaruh perhatian besar pada China sebagai langkah tepat.
“Kita harus belajar dari China, seperti pesan Nabi Muhammad untuk belajar sampai ke negeri China. Sekarang bukan hanya Barat yang jadi rujukan,” tuturnya.
Hermawan memaparkan model bisnis yang ia sebut omni house model, yakni keseimbangan antara marketing sebagai top line, keuangan sebagai bottom line, dan operasional sebagai middle line, terinspirasi dari filosofi Punakawan dan Pandawa yang akan dibukukan pada 2027.
Ia menyebut UMKM Indonesia akan menghadapi tantangan berat pada 2026 akibat masuknya perusahaan-perusahaan menengah dan kecil dari China.
“Bukan hanya perusahaan besar, sekarang yang menengah dan kecil dari China juga mulai masuk. Mereka terbiasa kerja keras dari jam enam pagi sampai jam enam sore, enam hari seminggu. Kalau kita tidak lebih keras, kita bisa kalah bersaing,” katanya.
Ia menilai pelaku usaha China terbentuk oleh budaya kerja disiplin dan patuh terhadap sistem, sementara UMKM Indonesia masih sering mengedepankan kebebasan tanpa kedisiplinan kuat.
“Kalau kita ingin kompetitif, mentalitas kita harus berubah. Bukan merasa bebas tanpa arah, tapi harus disiplin dan kerja keras,” tuturnya.
Hermawan menekankan pentingnya penguatan karakter pelaku UMKM melalui filosofi Punakawan: Bagong melambangkan kreativitas, Petruk inovasi, Gareng jiwa wirausaha, dan Semar sebagai pemimpin.
“UMKM itu harus punya mental leader, bukan mental manajer. Leader itu tidak menunggu target ditentukan, tetapi menentukan targetnya sendiri,” kata dia.
Ia menyebut dukungan pemerintah terhadap UMKM sudah besar, mulai dari kredit murah hingga berbagai fasilitas pendampingan.
“Pemerintah sudah banyak membantu, tetapi keberhasilan tetap ditentukan oleh orangnya sendiri. Kalau pelakunya manja karena bantuan, justru berbahaya,” ujarnya.
Hermawan mengingatkan perbedaan antara mental wirausaha dan profesional. Seorang pengusaha, katanya, harus siap bekerja tanpa mengenal waktu.
“Jadi pengusaha itu bukan jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Otaknya jalan terus. Itu bedanya mental entrepreneur dengan mental profesional,” ucapnya.
Ia juga menyoroti dunia pendidikan yang menurutnya harus lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
“Kalau dosen tidak mau berubah, nanti mahasiswanya yang tertinggal. Dunia berubah cepat, kampus juga harus berani berubah,” tuturnya.
Hermawan menutup dengan pesan bahwa kesuksesan tidak selalu mengharuskan seseorang menjadi yang terbaik.
“You don’t need to be the best, you just need to be different,” katanya.
