Surabaya (ANTARA) - Universitas Ciputra (UC) Surabaya menjadi tuan rumah forum penjaminan mutu pendidikan tinggi yang melibatkan lembaga dari ASEAN dan Eropa atau TrainIQA Workshop 3 dan ASEAN-QA Forum 2025.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah berbagi wawasan dan best practice antar-penjaminan mutu perguruan tinggi se-ASEAN,” kata Kepala Pengembangan Institusi dan Peningkatan Mutu (Head of Institutional Development and Quality Enhancement) UC Surabaya Lenny Rosita, S.T., M.MT., di kampus setempat, Rabu.
Lenny menjelaskan TrainIQA merupakan pelatihan penjaminan mutu internal yang pesertanya terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, mulai dekan hingga wakil rektor.
“Output-nya adalah tambahan ilmu, wawasan dan inspirasi. Peserta membawa pulang proyek pengembangan mutu masing-masing yang telah dibimbing oleh para mentor,” ujarnya.
Menurut dia, isu penjaminan mutu di Indonesia masih berkaitan dengan banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi kampus.
“Requirement mutu di Indonesia sangat beragam, bukan hanya dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), tetapi juga lembaga akreditasi mandiri. Masing-masing punya standar berbeda, sehingga perguruan tinggi harus menyusun sistem yang komprehensif, namun tetap sederhana dan aplikatif,” ujarnya.
Ia menegaskan forum ini membuka peluang mengadaptasi inovasi dari negara lain, termasuk negara maju.
Forum 2025 yang mengangkat tema Opportunities and Challenges in Higher Education Quality Assurance in the Era of AI ini dibuka Rektor UC Prof. Wirawan E.D., dan menghadirkan Dr Trianggoro Wiradinata, pakar kecerdasan buatan (AI) dan Director of Apple Developer Academy, sebagai pembicara utama.
Sesi panel menghadirkan tokoh QA internasional, seperti Frank Niedermeier (University of Potsdam), Prof. Dr. Duu Sheng Ong (Multimedia University Malaysia), dan Prof Dr Philipp Pohlenz (University of Magdeburg Jerman). Prof Pohlenz menyoroti tantangan besar QA, termasuk bagaimana universitas merespons sistem yang tersedia.
“Tantangan terbesar adalah apakah universitas benar-benar menggunakan sistem penjaminan mutu tersebut. Banyak sistem yang sudah sangat baik, tetapi tidak digunakan maksimal, karena resistensi atau ketidaknyamanan individu ketika dinilai kualitas dan performanya,” ujarnya.
Ia menekankan QA seharusnya dimanfaatkan sebagai sistem informasi yang mendukung keputusan strategis kampus.
Frank Niedermeier menambahkan perkembangan AI membawa perubahan pembelajaran, tetapi peran manusia tetap tak tergantikan.
“AI mungkin akan menggantikan beberapa fungsi, tetapi sentuhan manusia dan hubungan interpersonal dalam pendidikan tidak bisa dipisahkan. Pembelajaran tetap membutuhkan koneksi antarmanusia,” ucapnya.
Terkait pemilihan UC sebagai tuan rumah, Frank menjelaskan UC merupakan kampus yang sangat baik dan pihaknya telah lama bekerja sama dengan Lenny.
“Keputusan pemilihan tuan rumah dilakukan bersama, dan kami sangat senang berada di Surabaya, di kampus yang indah ini,” ujarnya.
TrainIQA yang didukung penuh DAAD Jerman (German Academic Exchange Service), bekerja sama dengan HRK (German Rectors’ Conference), University of Potsdam, ASEAN Quality Assurance Network (AQAN), European University Association (EUA), dan SEAMEO RIHED, diikuti 35 peserta.
Sementara ASEAN-QA Forum pada 4–5 Desember menghadirkan sekitar 75 peserta dari sembilan negara.
