Jakarta (ANTARA) - Persaingan Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner mencatatkan enam pertarungan sengit tahun ini, dengan petenis Spanyol itu memenangi empat pertandingan di antaranya untuk memperlebar keunggulan head to head menjadi 10-6 melawan petenis Italia tersebut.
Pertemuan pertama mereka tahun ini terjadi pada final Roma Masters. Dikutip dari ATP, Selasa, Sinner berambisi menjadi juara putra Italia pertama di Roma sejak 1976 (Adriano Panatta), namun Alcaraz mencuri sport light Internazionali BNL d'Italia.
Sinner, yang bermain di ajang pertamanya sejak mengangkat trofi Australian Open, tampak siap untuk merebut set setelah menahan dua set point. Namun, kesalahan forehand dan backhand yang tidak tepat waktu membuka peluang emas bagi Alcaraz.
Petenis Spanyol itu melewati badai dan menemukan permainan tenis terbaiknya di turnamen tersebut untuk mengakhiri 26 kemenangan beruntun Sinner dan meraih trofi Roma pertamanya.
"Dia memiliki aura itu," kata Alcaraz tentang Sinner.
"Ketika Anda melihatnya di sisi lain net, rasanya berbeda. Itulah mengapa jelas saya merasa orang-orang memberikan begitu banyak, bagaimana saya harus mengatakannya, tekanan dengan cara tertentu kepada kami berdua ketika kami berhadapan."
Pertemuan kedua terjadi di final French Open. Alcaraz tampil dengan luar biasa di Lapangan Philippe-Chatrier, bangkit dari ketertinggalan dua set dan menyelamatkan tiga kali match point untuk mencatatkan final putra terlama dalam sejarah Roland Garros.
Laga epik berdurasi lima jam 29 menit itu membuat para pakar berdebat tentang posisinya di antara pertandingan terhebat yang pernah ada.
Menghadapi tiga poin yang menentukan berturut-turut dengan kedudukan 3-5, 0/40 di set keempat, Alcaraz mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan servis sebelum mematahkan servis Sinner di gim berikutnya untuk membalikkan keadaan.
Alcaraz kembali menunjukkan tekadnya di set terakhir. Setelah gagal melakukan servis pada kedudukan 5-4, ia kembali bangkit untuk satu dorongan terakhir yang menentukan.
Di final Roland Garros pertama yang ditentukan melalui tie-break set kelima itu, Alcaraz tampil sempurna di saat-saat krusial untuk mencatatkan kemenangan 4-6, 6-7(4), 6-4, 7-6(3), 7-6(10-2).
Ia menjadi petenis ketiga di era modern yang berhasil menyelamatkan match point -- setelah Novak Djokovic dan Gaston Gaudio di turnamen major -- dan kemudian mengangkat trofi.
"Saya pikir juara sejati tercipta dalam situasi di mana Anda menghadapi tekanan itu, dengan situasi seperti itu, dengan cara sebaik mungkin," renung Alcaraz.
Pertemuan ketiga mereka di final Wimbledon terjadi ketika Sinner melakukan comeback gemilang setelah kalah telak di Roland Garros untuk meraih gelar Wimbledon pertamanya.
Setelah kehilangan empat gim dari kedudukan 4-2 di set pembuka, petenis Italia itu bangkit dengan tekad yang kuat untuk memberi Alcaraz kekalahan pertamanya di final major.
Set terakhir menjadi catatan gemilang Sinner di tenis lapangan rumput. Ia hanya kehilangan satu poin setelah servis pertamanya dan mengonversi sembilan poin net-nya untuk dinobatkan sebagai juara.
"Ini sebagian besar emosional, karena saya mengalami kekalahan yang sangat berat di Paris," kata Sinner saat upacara penyerahan trofi.
"Namun pada akhirnya, tidak masalah bagaimana Anda menang atau kalah di turnamen penting, Anda hanya perlu memahami kesalahan Anda dan mencoba memperbaikinya, dan itulah yang kami lakukan."
"Kami mencoba menerima kekalahan dan terus berusaha. Ini jelas salah satu alasan saya memegang trofi ini di sini," ujar petenis berusia 24 tahun itu.
Pertemuan keempat mereka terjadi di final Cincinnati ketika Sinner terpaksa mundur dari pertandingan. Pada awal pertandingan, Sinner tampak kelelahan di tengah terik matahari. Ia itu memanggil dokter setelah tertinggal 0-5.
Karena tidak dapat melanjutkan pertandingan, Sinner mengundurkan diri setelah hanya bermain selama 23 menit.
"Sejak kemarin saya merasa tidak enak badan," kata Sinner meminta maaf kepada para penggemar.
"Saya pikir saya akan membaik malam itu, tetapi ternyata lebih buruk. Saya mencoba untuk bangkit, mencoba untuk setidaknya bermain di pertandingan kecil, tetapi saya tidak sanggup lagi."
Alcaraz, yang menghibur Sinner yang sedang sakit setelah mereka berjabat tangan, meraih gelar juara Cincinnati pertamanya dan gelar ATP Masters 1000 kedelapannya, terbanyak di antara petenis aktif mana pun selain Novak Djokovic (40).
Pertemuan kelima mereka terjadi di final US Open. Dalam pertandingan yang penuh risiko, Alcaraz tak hanya menggagalkan upaya Sinner mempertahankan gelar di Flushing Meadows, tetapi juga menggantikan Sinner sebagai petenis nomor satu dunia, mengakhiri dominasi debut petenis Italia tersebut selama 65 pekan.
Alcaraz dengan percaya diri melepaskan pukulan-pukulan keras dari kedua sisi, dan menggandakan jumlah winner Sinner, yakni 42 berbanding 21.
Petenis Spanyol itu mendominasi banyak reli dan tampil kuat dengan servis, hanya kehilangan sembilan poin di belakang servis pertamanya.
Pelatih Alcaraz, Juan Carlos Ferrero, kemudian menggambarkan penampilan anak asuhnya "sempurna", penilaian yang juga disebut sendiri oleh Alcaraz, yang kini telah meraih enam gelar juara turnamen major.
"Dia selalu ingin saya bermain sebaik mungkin, dan saya tidak akan pernah mengatakan dia mengatakan itu, bahwa saya bermain sempurna. Jadi bagi saya, ini kemenangan yang luar biasa," kata Alcaraz.
"Tapi, ya, dia benar. Saya rasa saya bermain sempurna."
Tahun ini menandai musim kedua berturut-turut di mana Alcaraz dan Sinner berbagi empat gelar Grand Slam, yang berarti mereka telah meraih delapan gelar Grand Slam berturut-turut.
"Saya pikir kami selalu saling mendorong hingga batas maksimal," kata Alcaraz tentang rivalitasnya dengan Sinner.
"Latihan saya hanya terfokus untuk melihat bagaimana saya bisa menjadi lebih baik hanya untuk mengalahkan Jannik. Jadi, saya pikir rivalitas ini istimewa, saling berbagi gelar Grand Slam, dan berjuang untuk hal-hal hebat."
Laga pada babak puncak ATP Finals menutup pertemuan mereka musim ini. Di bawah sorotan lampu Inalpi Arena di Turin, Sinner menampilkan permainan tenis yang memukau dari bola pertama hingga terakhir.
Senjata terbesar Sinner adalah servisnya. Setelah melakukan beberapa penyesuaian teknis pada servisnya pasca-US Open, penyesuaian yang dilakukan petenis Italia ini terbukti efektif.
Sinner memenangi 84 persen poin servis pertamanya melawan Alcaraz untuk menutup ajang penutup musim tersebut dengan catatan sempurna 5-0.
"Saya merasa saya pemain yang lebih baik daripada tahun lalu, saya pikir ini yang terpenting. Ini semua bagian dari proses," ujar Sinner.
"Saya selalu berkata dan percaya bahwa jika Anda terus berlatih dan berusaha menjadi pemain yang lebih baik, hasilnya akan datang. Tahun ini seperti ini."
