Pacitan - Produksi ikan laut di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur selama sebulan terakhir turun drastis hingga kisaran 30 persen akibat cuaca buruk dan datangnya penghujan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pacitan, Fatkhurrozi, Senin mengatakan, penyusutan volume produksi/tangkapan ikan selama beberapa pekan terakhir disebabkan banyaknya nelayan pendatang, atau biasa disebut "andon", yang memilih pulang selama musim baratan. "Ini siklus yang biasa, setiap kali memasuki musim hujan atau baratan, tidak banyak ikan yang muncul di permukaan sehingga sulit ditangkap," jelasnya. Mengacu pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, paceklik ikan biasanya berlangsung hingga beberapa bulan mendatang. Para nelayan andon yang jumlahnya mencapai sekitar 70 persen dari total nelayan yang beraktivitas di perairan/pesisir selatan Kabupaten Pacitan, diperkirakan baru berbondong-bondong kembali ke kawasan pesisir selatan bagian barat Jawa Timur tersebut pada bulan Maret atau April. Untuk kemudian mulai melaut kembali pada pertengahan bulan Mei atau setelah musim hujan mereda. Turunnya produktivitas ikan laut dari kawasan Pelabuhan Tamperan secara langsung telah menyebabkan Kabupaten Pacitan saat ini kekurangan stok. Kondisi tersebut memaksa sebagian pedagang mengupayakan pasokan ikan laut dari luar daerah, sementara sebagian lainnya memilih komoditas ikan air tawar untuk memenuhi kebutuhan para pelanggannya masing-masing. "Budidaya ikan air tawar masih berskala rumah tangga, belum industri jadi hasilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan daerah saja," ujar Fatkhurrozi. Pantauan ANTARA di Pacitan, sejumlah komoditas ikan laut yang kini mulai menghilang (sulit didapat) di pasaran antara lain jenis ikan banyar (kembung), layur, tongkol serta lemuru. Memang penurunan stok ikan laut tersebut belum sampai mempengaruhi harga pasaran, namun hal itu tetap mengkhawatirkan sejumlah pembeli maupun pedagang sendiri lantaran ikan laut dari luar daerah mulai merambah wilayah pangsa pasar mereka. Dari pantauan di Pasar Minulyo, Kota Pacitan, sementara ini jenis ikan laut yang telah mengalami kenaikan harga adalah cumi-cumi. Jika semula cumi-cumi dijual Rp35 ribu per kilogramnya, kini naik menjadi Rp5 ribu atau menjadi Rp40 ribu per kilogram. Beberapa pedagang sengaja mendatangkan stok ikan laut dari luar daerah, seperti dari Kabupaten Tulungagung dan Semarang, Jawa Tengah (Jateng) untuk memenuhi kebutuhan pasar di Pacitan yang sampai saat ini masih tergolong tinggi. Selain dari kantong produksi lokal, ikan-ikan tersebut sebagian di antaranya didatangkan dari wilayah Boyolali, Jateng. "Pengaruh musim baratan terasa sekali, karena ikan-ikan kini sulit diperoleh," ujar Suprihatin, salah seorang pedagang ikan di Pasar Minulyo. (*)
