Surabaya (ANTARA) - Perekonomian Jawa Timur tumbuh 1,7 persen secara quarter to quarter (q-to-q/qtq) pada triwulan III 2025 sehingga menunjukkan ketangguhan ekonomi daerah di tengah fluktuasi global dan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
"Alhamdulillah, secara (q-to-q) ekonomi Jatim tumbuh 1,7 persen. Angka ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa. Ini menunjukkan daya tahan dan soliditas ekonomi Jatim yang luar biasa,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Kamis.
Ia mengatakan di tengah fluktuasi ekonomi dunia justru Jawa Timur mampu membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga pertumbuhan yang stabil dan inklusif,” imbuhnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara year on year (y-o-y) terhadap triwulan III 2024 perekonomian Jatim tumbuh 5,22 persen.
Angka tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang secara (q-to-q) terhadap triwulan II 2025 tumbuh 1,43 persen dan secara (y-o-y) 5,04 persen.
"Dengan angka tersebut, Jatim tercatat penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa sebesar 25,65 persen dan nasional sebesar 14,54 persen," kata Gubernur Khofifah.
Industri pengolahan menjadi penyumbang sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,87 persen sedangkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 9,18 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,25 persen, dan dari sisi produksi, jasa perusahaan tumbuh 9,89 persen.
Ia menambahkan, peningkatan distribusi listrik dan gas untuk industri dan rumah tangga, progres proyek infrastruktur, serta peningkatan realisasi investasi turut menjadi faktor pendukung.
Sementara faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara tahunan antara lain peningkatan realisasi investasi, jumlah wisatawan nusantara, dan ekspor luar negeri.
Pertumbuhan komponen ekspor barang dan jasa didorong oleh meningkatnya ekspor komoditas perhiasan atau permata, serta peningkatan perdagangan antarprovinsi melalui program misi dagang dengan sejumlah daerah.
"Terakhir di Nusa Tenggara Timur mampu mencatatkan transaksi tertinggi sepanjang sejarah misi dagang yaitu mencapai Rp1,882 triliun," ujar Gubernur Khofifah.
Data BPS juga mencatat kinerja ekspor Jawa Timur selama Januari–September 2025 meningkat 20,23 persen cumulative to cumulative (c-to-c) senilai 3,86 miliar dolar AS, dengan neraca perdagangan surplus 1,33 miliar dolar AS.
Menurut Gubernur Khofifah, capaian tersebut selaras dengan semangat Jatim Tangguh, Terus Bertumbuh yang mencerminkan kemampuan menghadapi tekanan global tanpa kehilangan arah serta konsistensi memperkuat produktivitas dan kesejahteraan rakyat.
