Surabaya (ANTARA) - Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Jairi Irawan, menilai Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar TNI (Purn) H.M. Soeharto, memiliki peran besar dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan ideologi Pancasila, sehingga layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
“Yang masih berdiri kokoh baik dalam fisik dan ingatan kita hingga kini adalah bagaimana beliau membangun masjid-masjid Pancasila yang tersebar di wilayah-wilayah Indonesia sebagai perekat toleransi di masyarakat. Ini penting untuk memperkuat rekonsiliasi antargenerasi dalam menjaga semangat persatuan bangsa,” kata Jairi di Surabaya, Selasa.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur itu menyebut, keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto merupakan penghargaan yang tepat bagi sosok yang berjasa besar dalam membangun fondasi pembangunan nasional.
Menurutnya, momentum ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meneladani semangat kerja keras, kemandirian, dan komitmen terhadap pembangunan bangsa sebagaimana diwariskan Soeharto.
“Gelar Pahlawan Nasional bagi HM Soeharto bukan sekadar simbol penghargaan, tetapi juga pengingat bahwa kerja keras dan pengabdian kepada bangsa akan selalu dikenang,” ujarnya.
Jairi menambahkan, selama masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia mampu mencapai stabilitas ekonomi dan swasembada pangan melalui sistem pertanian yang kuat, yang turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“HM Soeharto juga tokoh pembangunan Indonesia. Beliau berhasil menjadikan Indonesia kuat di bidang pangan dan menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil,” kata Jairi yang juga ketua Golkar Tulungagung..
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh bangsa pada peringatan Hari Pahlawan 2025. Mereka adalah Marsinah, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Hajjah Rahmah El Yunusiyyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah.
