Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Pihak Kepolisian Resor (Polres) Probolinggo memastikan bahwa kasus dugaan pembegalan terhadap seorang tenaga kesehatan (nakes) RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, hanyalah rekayasa semata.

"Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan mendalam, jajaran Polsek Kraksaan bersama Polres Probolinggo memastikan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan tindak kriminal sebagaimana yang sebelumnya dilaporkan," kata Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif dalam keterangannya di Probolinggo, Kamis.

Sebelumnya, dilaporkan seorang nakes RSUD Waluyo Jati bernama Nugroho Priyo Wicaksono asal Kecamatan Kraksaan menjadi korban begal oleh orang tidak dikenal di sekitar kawasan Makam Pahlawan Sidomukti, Kraksaan, pada Senin (1/6) malam.

"Dari hasil pemeriksaan dan observasi petugas di lapangan ditemukan sejumlah kejanggalan dan dari hasil pemeriksaan dan observasi di lapangan ditemukan sejumlah kejanggalan karena luka yang dialami korban tidak sesuai dengan kronologi pembegalan yang disampaikan," katanya.

Selain itu, lanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan petugas bahwa yang bersangkutan mengakui bahwa cerita pembegalan tersebut merupakan rekayasa yang dibuat sendiri.

"Yang bersangkutan sudah mengakui secara sadar dan tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun bahwa kejadian tersebut direkayasa karena adanya permasalahan ekonomi dalam keluarga,” katanya.

Dengan pengakuan tersebut, polisi menegaskan bahwa tidak pernah terjadi aksi pembegalan sebagaimana informasi yang sempat beredar luas di tengah masyarakat, bahkan kabar tersebut sempat menimbulkan keresahan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

"Banyak warga yang merasa cemas terhadap kondisi keamanan, khususnya di wilayah Kabupaten Probolinggo. Untuk itu, saya mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, apalagi terkait kejadian yang saat ini meresahkan masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, setiap informasi yang beredar perlu dipastikan terlebih dahulu kebenarannya agar tidak menimbulkan keresahan publik, sehingga pihaknya berharap kejadian seperti itu tidak terulang kembali karena informasi yang tidak benar dapat membuat masyarakat resah serta berpotensi mengganggu situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk selalu memberikan keterangan yang jujur kepada aparat penegak hukum dan tidak menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Langkah tersebut penting untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan ketenangan bersama," kata Wahyudin.

Sementara itu, atas perbuatannya, pelapor Nugroho meminta maaf kepada kepolisian dan masyarakat Probolinggo, serta mengakui hasil penjualan motor digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepada polisi, ia mengaku sengaja membuat cerita palsu seolah menjadi korban begal setelah menjual sepeda motor milik ayahnya seharga Rp1,5 juta.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026