Lamongan (ANTARA) - Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Lamongan Dirham Akbar Aksara menekankan pentingnya validitas dan pembaruan data sebagai dasar percepatan penurunan stunting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.
“Validitas data menjadi kunci keberhasilan program percepatan penurunan stunting. Dengan data yang akurat, langkah intervensi bisa lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya di Lamongan, Jawa Timur, Senin.
Ia menjelaskan pembaruan data diperlukan untuk mengetahui ketimpangan geografis, mengefektifkan intervensi, serta menjadi dasar pemantauan dan evaluasi program di lapangan.
Menurut dia, faktor penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan gizi tetapi juga dipengaruhi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berbeda di tiap wilayah.
Capaian penurunan stunting di Lamongan, lanjut Dirham, tidak lepas dari sinergi lintas sektor dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) melalui program 1-10-100.
"Program tersebut memberikan paket makanan bergizi bagi balita berisiko dan susu bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK), disertai pemantauan rutin dua minggu sekali di Pos pelayanan terpadu (Posyandu)." jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, prevalensi stunting di Kabupaten Lamongan terus menurun dalam tiga tahun terakhir yakni dari 27,5 persen pada 2022 menjadi 9,4 persen pada 2023 dan kembali turun menjadi 6,9 persen pada 2024.
Pemkab Lamongan berkomitmen memperkuat kerja lintas sektor, memperbarui basis data keluarga berisiko stunting, dan menjaga konsistensi intervensi agar Lamongan dapat menjadi daerah bebas stunting di masa mendatang.
