Malang (Antara Jatim) - Wali Kota Batu Eddy Rumpoko mengakui program pertanian organik yang digagas dua tahun terakhir masih belum optimal dalam pelaksanaannya di lapangan karena berbagai kendala. "Ada beberapa kendala yang harus kami tuntaskan agar tiga tahun ke depan program pertanian organik ini berhasil dan menunjukkan kemajuan. Saya yakin, selama lima tahun sejak digagas dua tahun lalu, pasti sukses," kata Eddy Rumpoko di Kota Batu, Jatim, Selasa. Ia mengemukakan berdasarkan hasil evaluasi selama pelaksanaannya dua tahun terakhir ini memang ada beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya adalah seluruh Penyuluh Lapang (PL) belum memiliki kemampuan menginformasikan program ini secara gamblang pada masyarakat, terutama yang berkaitan dengan konsep pertanian organik. Selain itu, lanjutnya, petani masih khawatir akan pangsa pasar pertanian organik dan pemerintah belum dapat meyakinkannya, petani beranggapan pendapatannya akan merosot jika beralih ke pertanian organik, perlu ada penataan sistem yang lebih baik dari hulu sampai hilir, baik pola tanam hingga hasil pertanian. Kendala lainnya adalah belum adanya teknologi super canggih dalam mendukung pertanian organik tersebut. "Konversi lahan butuh waktu sekitar dua tahun, sehingga pertanian organik tidak bisa langsung berhasil, bila kondisi tanah tidak sesuai dan harus dipulihkan terlebih dahulu," tegasnya. Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah akan fokus mengedukasi petani dan masyarakat luas terkait pertanian organik tesrebut, sebab selain aman dikonsumsi juga hidup sehat. "Kami sudah punya outlet untuk menampung hasil pertanian organik, bahkan untuk harga, pertanian organik lebih mahal dibanding pertanian biasa," ujarnya. Selain mengedukasi petani dan masyarakat, kata Eddy, pemkot juga membentuk tim percepatan pengembangan pertanian organik yang nantinya terjun langsung dan melakukan investigasi perkembangan pertanian di wilayah itu. Menurut politisi dari PDI Perjuangan itu, jika program pertanian ingin dapat terealisasi dengan baik dan sesuai harapan, perlu evaluasi dan pengawasan ketat. Tim percepatan pertanian organik ini di luar Dinas Pertanian dan Kehutanan, tim akan memantau langsung dilapangan. "Tugas lain dari tim itu adalah mengawasi penyaluran pupuk, apakah petani banyak yang menggunakan tanam pola organik hingga harga jual hasil panen di pasar dan memantau kesiapan toko yang bakal menampung hasil pertanian organik. Selama tiga tahun masa jabatan saya yang tersisa ini, saya target harus ada bukti konkrit, sehingga perlu tim khusus," tandasnya.(*)

Pewarta:

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015