Lamongan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan mengungkapkan sejumlah strategi yang mendorong capaian produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) di wilayahnya menjadi tertinggi di Jawa Timur berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim per September 2025 yakni lewat teknologi pertanian dan sinergi dengan kelompok tani.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, terutama petani yang tetap produktif di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.
“Sinergi pemerintah daerah dengan kelompok tani dan dukungan teknologi pertanian menjadi kunci meningkatnya produksi padi di Lamongan,” katanya dalam keterangannya di Lamongan, Jawa Timur, Rabu.
Berdasarkan data BPS Jatim, produksi padi di Lamongan menempati urutan pertama sepanjang 2025 dengan capaian 904.928 ton GKG, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni pada 2024 sebesar 776,29 ton. Selanjutnya, disusul Bojonegoro, Ngawi, Tuban, dan Madiun.
Baca juga: Pemkab Lamongan targetkan 38 ruas Jamula rampung akhir 2025
Dia menjelaskan, peningkatan tersebut didukung oleh beberapa hal yakni program luas tambah tanam (LTT), kemudahan akses pupuk, penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan), serta memberikan perlindungan sosial bagi petani melalui asuransi pertanian.
"Selain bertekad untuk mempertahankan predikat sebagai lumbung pangan nasional, kami juga berupaya memperkuat kesejahteraan petani melalui pendampingan dan pelatihan berkelanjutan," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah setempat ke depan terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi modern, pengelolaan air terpadu, dan optimalisasi lahan tadah hujan.
Sebagaimana diketahui, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian pada akhir Oktober mencatat realisasi tanam di Lamongan telah mencapai seluas 120.247 hektare dari total yang ditargetkan seluas 192.373 hektare. Sementara untuk luas panen mencapai 166.017 hektare dengan estimasi produksi GKG sebanyak 1.211.924 ton.
Adapun gabah kering giling (GKG) saat ini mencapai Rp8.033 per kilogram dan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat produsen tercatat mencapai rata-rata Rp7.300 per kilogram, di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
