Ponorogo, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mencatat sedikitnya ada delapan kejadian bencana selama sepekan terakhir akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah itu sejak 21 hingga 27 Oktober 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun, Selasam mengatakan, delapan kejadian tersebut terdiri atas enam tanah longsor dan dua bencana akibat cuaca ekstrem.
Dari enam kejadian longsor, lima di antaranya menimpa rumah warga. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
"Satu kejadian lagi menyebabkan talud jalan poros di Kecamatan Sawoo ambrol," ujar Masun.
Menurut data BPBD, longsor terjadi di Desa Tempuran dan Desa Sawoo (Kecamatan Sawoo), Desa Wagir Kidul (Kecamatan Pulung), Desa Wonodadi (Kecamatan Ngrayun), serta Desa Pupus (Kecamatan Ngebel).
Sementara itu, bencana akibat cuaca ekstrem tercatat melanda Desa Karangan dan Sambirejo (Kecamatan Balong) serta Desa Sempu (Kecamatan Ngebel).
Masun menjelaskan, cuaca ekstrem di awal musim penghujan menjadi pemicu utama terjadinya longsor.
"Di awal musim penghujan sering kali terjadi angin kencang disertai hujan lebat. Kombinasi ini bisa memicu longsor, terutama di wilayah lereng yang sebelumnya kering," terangnya.
Selain faktor alam, lanjut Masun, buruknya sistem drainase juga memperparah risiko longsor. Air hujan yang tidak mengalir lancar membuat tanah menjadi gembur dan mudah bergerak.
"Sering kali longsor dipicu oleh saluran air yang tersumbat, meskipun kemiringan lahan juga berperan. Karena itu, warga yang tinggal di lereng sebaiknya rutin mengecek saluran air di sekitar rumah," imbaunya.
BPBD Ponorogo juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya, seperti banjir dan angin kencang, seiring meningkatnya intensitas hujan di wilayah selatan Jawa Timur.
"Kami terus mengimbau masyarakat agar selalu waspada, terutama saat hujan deras disertai angin kencang," pungkasnya.
