Ponorogo - Aneka cendera mata dan peralatan kesenian tradisional "reog" bertebaran di sekitar arena Festival Reog Nasional (FRN) XIX yang dipusatkan di alun-alun Kota Ponorogo, Jawa Timur. ANTARA di Ponorogo, Minggu melaporkan, hampir di sepanjang jalan dan seputaran alun-alun kini banyak dipadati penjual dadakan, mulai dari aneka makanan/jajanan dan minuman, hingga pernak-pernik kerajinan khas Ponorogo. Pemandangan serupa sebenarnya telah ada sejak lama, namun kepadatan penjual aneka makanan maupun oleh-oleh di sekitar lokasi perhelatan festival reog nasional tersebut kini meningkat pesat. "Dampak ekonomi pagelaran FRN ini sangat tinggi bagi masyarakat Ponorogo. Kedatangan rombongan peserta FRN dari berbagai daerah serta membeludaknya pengunjung membuat omzet penjualan aneka makanan dan khususnya suvenir reog melonjak hingga berlipat-lipat," ujar Harianto, salah seorang pedagang souvenir di alun-alun Ponorogo. Bersamaan dengan ritual budaya "Grebeg Suro" dan FRN tersebut, lanjut dia, omzet penjualan disebutnya bisa meningkat hingga 10 kali lipat. Keuntungan juga semakin tinggi lantaran mayoritas pedagang memanfaatkan momentum tahunan tersebut untuk menaikkan harga, sehingga lebih tinggi dari biasanya. Aneka jenis cendera mata yang paling banyak diminati pembeli biasanya adalah perangkat dan kelengkapan reog, salah satu jenis tari tradisional khas Ponorogo, seperti dadak merak lengkap dengan kepala harimaunya, kaos dan baju kebesaran para warok (sebutan untuk penari reog), barongan (kepala dadak merak yang digunakan untuk warok menari reog) kuda lumping, serta aneka kerajinan lainnya. Jemingan (37) salah seorang perajin dari daerah Purbosuman, Ponorogo mengaku ikut menikmati berkah grebeg suro dan FRN XIX. Dikatakannya, omzet pesanan dadak merak dan barongan hasil karyanya meningkat pesat. Ia mengaku telah melipatgandakan stok maupun produksi dadak merak dan barongan sejak beberapa bulan lalu, demi mengantisipasi kenaikan omzet pesanan selama kegiatan FRN. "Reog saya lebih banyak yang laku. Ada yang beli dadak merak lengkap dengan barongan-nya (kepala macan), ada pula yang dadhak meraknya saja, atau kepalanya saja," tuturnya. Jemingan tidak menjelaskan berapa banyak omzet pesanan yang diterimanya selama menjelang kegiatan FRN. Ia hanya mengatakan setiap FRN digelar, stok barongan, dadak merak hingga berbagai topeng karakter tokoh dalam tarian reog ditambah untuk memenuhi pesanan pembeli ataupun pelanggannya, mulai dari grup reog hingga pedagang yang ingin meraih keuntungan dari momen FRN serta grebeg suro. "Kalau sedang grebeg seperti sekarang, stok barang saya baik yang untuk menari atau sekadar suvenir pasti laku," tuturnya. Impor bulu merak pun dilakukan Jemingan maupun perajin reog lain. Sebab, untuk bisa memenuhi rengkek atau kerangka dadak merak dibutuhkan ratusan batang bulu merak. "Kalau mengandalkan peternak merak di Indonesia jumlahnya tidak mencukupi. Makanya saya datangkan dari India, di sana peternaknya banyak," ujarnya. Jemingan mengakui, pembuatan dadak merak jelang grebeg suro dilakukannya untuk mengantisipasi hadirnya para peserta FRN dari luar pulau. Sebab berdasar pengalaman beberapa tahun terakhir, grup-grup reog dari luar pulau enggan membawa dadak merak mereka untuk dipakai bertanding di Ponorogo.(*)
Berita Terkait
Dokter: Demam tinggi mendadak dan menggigil gejala Leptospirosis
29 Januari 2026 09:01
Seniman Malang juara Faber-Castell Colour4Life 2025 angkat budaya Nusantara
27 Januari 2026 20:10
Desain busana berkelanjutan dan masa depan ekraf Indonesia
26 Januari 2026 11:16
Fadli Zon resmikan Pendopo Pate Alos di Situbondo
26 Januari 2026 09:36
Menbud nilai pemanfaatan kawasan Candi Jabung kunci pelestarian
26 Januari 2026 09:18
Fadli Zon tinjau revitalisasi Candi Jabung di Probolinggo
26 Januari 2026 08:46
Vokalis Element, Lucky Widja meninggal dunia
26 Januari 2026 07:36
Mengenali modus phishing dan strategi lindungi data pribadi
25 Januari 2026 16:30
