Bangkalan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Jawa Timur melakukan gerakan pasar murah untuk menstabilkan harga kebutuhan bahan pokok di wilayah itu yang cenderung mengalami kenaikan akhir-akhir ini.

"Gerakan pangan murah ini adalah upaya pemerintah untuk menekan inflasi sekaligus menstabilkan harga beras dan minyak, karena konsumsi kebutuhan bahan pokok kini meningkat, karena banyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar masyarakat," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Bangkalan Ismet Efendi pada peluncuran kegiatan itu di Bangkalan, Selasa.

 

Program gerakan pangan murah ini bekerja sama dengan Perum Bulog Madura dan instansi terkait di Kabupaten Bangkalan.

Ia menjelaskan kegiatan bukan hanya di Bangkalan, akan tetapi serentak di seluruh Indonesia.

"Jadi program ini mendapatkan perhatian langsung dari Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman dan sebelum peluncuran program ini, kami juga telah mendapatkan arahan dari Pak Menteri tentang pentingnya menjaga ketersediaan pangan di dalam negeri," katanya.

Ia menuturkan Menteri Amran Sulaiman menekankan agar beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) disalurkan seluas-luasnya kepada masyarakat.

Selain beras SPHP, jenis pangan lainnya yang juga dijual Pemkab Bangkalan kepada masyarakat pada program gerakan pangan murah ini, minyak goreng subsidi.

"Harga untuk beras Rp57.500 per kemasan 5 kilogram dan minyak goreng subsidi, yakni Minyakita Rp15.700 per liter," katanya.

 

 

Harga beras dan minyak goreng yang dijual Pemkab Bangkalan pada program ini, jauh lebih murah dibanding harga yang berlaku di pasaran.

Sebab, untuk harga beras medium saja antara Rp12 ribu hingga 12.500 per kilogram, sedangkan Minyakita antara Rp16 ribu hingga Rp17.500 per liter.

"Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan program ini sebaik-baiknya. Program gerakan pangan murah ini tidak hanya di Pemkab Bangkalan, akan tetapi serentak di berbagai pelosok desa dan kecamatan di Kabupaten Bangkalan," katanya.



Pewarta: Abd Aziz
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026