Bojonegoro (ANTARA) - Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Setyo Wahono menilai keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al-Amin Religi di daerah setempat dapat mendukung peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat.
"Harapannya MBS Al Amin Religi menjadi lokomotif pendidikan yang mampu mendukung peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di Bojonegoro," kata Wahono saat menghadiri peresmian MBS Al-Amin Religi Bojonegoro sebagai pilot project pengembangan Pesantren Muhammadiyah Sistemik (PMS) oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, di Bojonegoro, Minggu.
Wahono apresiasi atas penunjukan MBS Al-Amin Religi sebagai pilot project Pesantren Muhammadiyah karena kehadiran pesantren ini dapat meningkatkan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Bojonegoro.
"Khususnya melalui pendidikan berkualitas yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan sains," jelasnya.
Sementara itu, perwakilan pengurus PP Muhammadiyah, KH. Saat Ibrahim menerangkan, Pesantren Muhammadiyah Sistemik (PMS) dirancang sebagai model tunggal pengelolaan pesantren yang mencerminkan nilai-nilai islam, kemajuan, kredibilitas dan kepercayaan masyarakat.
Baca juga: Ketum PP Muhammadiyah tekankan ilmu tanpa iman lahirkan kesombongan
PMS mencakup sejumlah aspek penting seperti sistem pendaftaran, kepemimpinan, belajar mengajar, pengelolaan keuangan dan wujud fisik pesantren. Serta mengatur sistem penerimaan santri, kolaborasi, pengelolaan lingkungan dan penerimaan tamu.
“PMS harus menjadi brand yang menjamin bahwa Pesantren Muhammadiyah Islami, maju, kredibel, dan dipercaya masyarakat dimana pun, dengan lulusan yang menguasai nushush, memahami sains dan mengembangkan teknologi dalam konteks teologis," terang KH. Saat Ibrahim di Bojonegoro, Jawa Timur.
Ditambahkan, PMS juga mencakup sistem relasi antara santri, ustadz, direktur, dan kyai, serta sistem legalisasi vertikal dan horizontal antara pesantren dan Muhammadiyah. Sistem manajemen risiko di semua aspek juga menjadi bagian integral dari PMS untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas pengelolaan.
Prinsip perumusan PMS, lanjut Saat, meliputi unity untuk hal-hal pokok, diversity untuk hal-hal non-pokok, menjamin kualitas pengelolaan, kemudahan dikenali masyarakat, mengurangi ketergantungan personal dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada.
“PMS adalah upaya untuk mewujudkan pesantren yang sistematis, terpercaya, dan mampu mencetak generasi unggul yang berakhlak mulia," katanya.
