Surabaya (ANTARA) - Mantan Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Surabaya Aan Ainur Rofik meminta elemen Rakyat Jawa Timur Menggugat menunda rencana unjuk rasa di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada 3 September 2025,
“Sebagai sahabat, teman sejawat, dan sesama aktivis dengan segala kerendahan hati meminta sahabat M. Sholeh dan kawan-kawan yang tergabung di Posko Rakyat Jawa Timur Menggugat untuk menunda atau membatalkan rencana aksi 3 September,” kata Aan di Surabaya, Minggu.
Ia mengajak masyarakat Jawa Timur serta seluruh elemen bangsa untuk lebih waspada terhadap potensi kerusuhan yang dapat memicu kekacauan.
Ia menegaskan bahwa kericuhan tidak akan membawa keuntungan, melainkan justru memperburuk keadaan, termasuk di wilayah Surabaya.
Aan menyampaikan keprihatinan atas peristiwa aksi demonstrasi di Jakarta pada 25 Agustus 2025 yang berujung bentrokan hingga malam hari, serta lanjutan aksi pada 28 Agustus 2025 yang mengakibatkan seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan meninggal dunia.
Kerusuhan kemudian meluas hingga Surabaya pada 29 Agustus, yang ditandai dengan aksi di depan Gedung Negara Grahadi, kericuhan di DPRD Surabaya, serta aksi pembakaran pos polisi di Taman Bungkul.
“Saya benar-benar prihatin,” ujar Aan yang juga seorang pengacara ini.
Atas dasar itu, ia berinisiatif menulis surat dan berencana menemui Koordinator Posko Rakyat Jawa Timur Menggugat, M. Sholeh, agar dapat mempertimbangkan kembali seruan aksi.
Rencana unjuk rasa tersebut diketahui mengusung sejumlah tuntutan, diantaranya penurunan pajak kendaraan bermotor serta penuntasan dugaan kasus korupsi dana hibah di Jawa Timur.
“Saya sekali lagi memohon kepada sahabat M. Sholeh agar membatalkan atau menunda aksi ini, demi kondusifitas Jawa Timur dan kebaikan kita bersama,” tutur Aan.
