Sidoarjo - Peternak burung kicauan masih kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar menyusul minimnya jumlah telur yang berhasil ditetaskan oleh burung kicauan tersebut.
Salah satunya seperti yang dialami oleh Abdul Aziz peternak burung kicauan jenis cucak rowo yang mengaku hanya bisa memenuhi kebutuhan pasar sebanyak 15 ekor burung jenis cucak rowo siap jual setiap bulannya.
"Jumlah tersebut masih jauh dari permintaan pasar yang junlahnya bisa sampai puluhan ekor setiap bulannya dan kami sebagai peternak hanya bisa memenuhi sekitar 15 ekor saja setiap bulannya," katanya, Kamis.
Ia mengemukakan, untuk burung kicauan jenis cucak rowo memang memiliki kesulitan tersendiri dalam hal pengembangbiakannya mengingat burung tersebut membutuhkan ketenangan dan juga kebersihan kandang.
"Ketenangan dan kebersihan kandang merupakan salah satu faktor keberhasilan dari pengembangbiakan burung kicauan jenis cucak rowo ini," katanya.
Ia mengatakan, awal mula dirinya terjun dibidang budidaya pengembangan cucak rowo karena prihatin keberadaan burung cucak rowo di habitat aslinya sudah mulai berkurang karena makin banyaknya perburuan liar.
"Kemudian, kami yang suka dengan burung kicauan tersebut satu persatu mulai membudidayakan burung tersebut dengan harapak supaya keberadaan burung cucak rowo tidak punah dari habitat aslinya," katanya.
Ia mengatakan, untuk setiap pasang burung cucak rowo usia sekitar empat bulan atau yang sudah bisa makan sendiri dijual dengan harga sekitar Rp6 juta.
"Tingginya harga jual tersebut membuat sebagian penggemar burung beralih menjadi pembudidaya burung kicauan. Tetapi, mereka tidak telaten dan tidak berhasil dalam mengembangbiakan burung kicauan tersebut," katanya.
Ia mengatakan, saat ini penjualan burung kicauan jenis cucak rowo miliknya sudah merambah pasar antarpulau seperti Sumatera dan beberapa kawasan lain di Indonesia.
"Tetapi pasar saya lebih banyak untuk wilayah Surabaya dan Jakarta, itupun kami masih kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi," katanya.(*)
Editor : Akhmad Munir
COPYRIGHT © ANTARA 2026