Surabaya (ANTARA) - Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai Partai Demokrat terlalu dini menyiapkan Emil Elestianto Dardak yang saat ini merupakan Wakil Gubernur Jawa Timur, untuk maju sebagai calon Gubernur Jawa Timur mendatang.
"Kalau hemat saya, lebih baik Demokrat fokus mendukung pemerintahan provinsi dulu dan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan tanpa harus terbebani beban politik," katanya saat dihubungi ANTARA dari Surabaya, Jawa Timur, Minggu.
Menurut dia, dengan fokus mendukung pemerintahan provinsi terlebih dahulu, Demokrat lebih leluasa dan tidak dianggap terburu-buru karena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim masih cukup lama. Terlebih Emil Dardak baru tujuh bulan dilantik mendampingi Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Surokim mengingatkan, kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim merupakan arena politik "liga utama", sehingga seluruh strategi harus dipertimbangkan secara matang dengan memperhatikan konteks ruang dan waktu.
Menurut peneliti senior Surabaya Survei Center (SSC) ini, dengan mendorong sosok Emil untuk maju Pilgub Jatim mendatang, di satu sisi mampu menguatkan soliditas internal partai dan menjaga sentimen pemilih.
Namun, di sisi lain bisa membuat gerakan Demokrat tidak leluasa serta kehilangan fleksibilitas dalam membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.
Ia menyebut Pilgub Jatim selalu menjadi ajang politik strategis sekaligus bergengsi, bahkan sering menjadi wilayah kehormatan bagi partai besar yang memiliki basis tradisional, seperti PKB dan PDI Perjuangan.
"Dua pendulum politik antara nasionalis dan religius ini harus dicermati dengan baik, ke mana bandulnya bergerak. Jadi, lebih baik fokus bekerja dan tidak menyinggung pilgub dulu," kata Surokim.
Sebelumnya, Rabu (13/8), Sekjen Partai Demokrat Herman Khaeron usai menghadiri Rakerda Partai Demokrat Jatim di Surabaya menyampaikan, Emil Dardak tengah disiapkan sebagai calon Gubernur Jawa Timur.
Rencana tersebut menjadi salah satu dari tiga misi besar Partai Demokrat yang harus diemban seluruh kader di Jatim dalam menyongsong Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Rencana tersebut mengacu dari posisi Gubernur Khofifah yang sudah memimpin Jawa Timur dua periode dan tidak mungkin maju lagi.
