Surabaya (ANTARA) - DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur mendukung swasembada pangan dengan penyediaan bibit unggul dan pengawasan beras oplosan, sejalan program Presiden Prabowo Subianto.
"Kalau tanaman pangan ya bibit unggul. Kalau tebu varietas unggul. Untuk peternakan, kita berupaya regenerasi bibit unggul, karena tantangannya masih soal inses," ujar Ketua Umum HKTI Jatim, Arum Sabil usai pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI se-Jatim masa bakti 2025-2030 di Surabaya, Kamis.
Di bidang peternakan, lanjut Arum, HKTI juga mendorong program inseminasi buatan untuk meningkatkan kualitas genetika sapi lokal.
Arum menjelaskan bahwa impor sapi pun harus memberikan manfaat ganda.
“Kalau impor dara bunting, kita bisa perbaiki genetika, dan itu membantu peternak juga dalam jangka panjang,” katanya.
Lebih lanjut, Arum menyebutkan pentingnya sinkronisasi birahi dalam proses inseminasi. Program ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan keberhasilan pengembangbiakan sapi.
“Kita perlu pemantauan serentak, sehingga umur dan kesiapan sapi bisa dikontrol lebih baik,” ucapnya.
Sementara untuk mengatasi beras oplosan, Arum Sabil menegaskan, organisasinya turut berperan dalam melakukan pengawasan terhadap adanya beras oplosan. Sebab proses produksi beras itu cenderung tak sesuai izin.
“Itu ranah penegak hukum. Kami berperan melakukan pengawasan dan memberikan laporan," kata Arum.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa optimistis target swasembada pangan dapat tercapai karena peran aktif petani dan HKTI.
Khofifah menyebut produksi padi Jawa Timur konsisten tertinggi di Indonesia sejak 2020 hingga semester pertama 2025. Pemerintah juga menetapkan HPP minimal Rp6.500 per kilogram.
