Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang melakukan evaluasi efektivitas dari penerapan sistem parkir non tunai yang sudah berjalan di sejumlah lokasi, di wilayah itu.
Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu, mengatakan salah satu aspek yang akan dibahas, yakni mengenai pemanfaatan sistem tersebut oleh masyarakat.
"Pemasangan QRIS sebagai edukasi kepada masyarakat dan juru parkir untuk menggunakan pembayaran non tunai, tetapi kondisi di lapangan (pemanfaatan) masih rendah," kata Widjaja.
Menurut dia, minimnya penggunaan sistem pembayaran parkir dengan non tunai atau dengan sistem kode batang ini karena titik pemasangan yang kurang strategis.
Kondisi itu yanv pada akhirnya membuat masyarakat merasa enggan untuk menggunakan model pembayaran digital.
"Kalau posisi (kode batang) sekitar 20-30 meter pengendara enggan berjalan ke tempat itu untuk melakukan pemindaian," ucapnya.
Oleh karena itu, pihaknya menyiapkan upaya optimalisasi sistem pembayaran digital dengan cara memindahkan lokasi pemasangan kode batang.
Kemudian, lanjutnya, juga membuka opsi memanfaatkan keberadaan juru parkir untuk membawa kertas bergambar kode batang sehingga bisa lebih fleksibel dan memudahkan masyarakat membayar tarif parkir.
Dishub juga terus menjajaki kerja sama dengan pihak perbankan untuk mendukung efektivitas penggunaan sistem parkir non tunai.
Strategi yang disusun ini bertujuan untuk merealisasikan target penerimaan retribusi parkir pada 2025 yang sebesar Rp17 miliar. Angka itu sudah termasuk dari sektor parkir tepi jalan khusus senilai Rp5,5 miliar.
Selain itu, Widjaja menambahkan bahwa optimalisasi pemanfaatan parkir non tunai nantinya akan ditunjang dengan terbitnya perubahan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Tempat Parkir yang saat ini masih dibahas bersama DPRD Kota Malang.
"Kami berharap sebelum akhir tahun perda yang soal parkir itu bisa selesai (disahkan). Lalu, sistem pembayaran dan manajemen parkir kami perbaiki total," kata dia.
Terkait dugaan perusakan alat QRIS di beberapa lokasi, Widjaja menyampaikan sudah menerima laporan tersebut. Namun, pihaknya mengalami kesulitan dalam mencari pelaku lantaran tidak adanya CCTV di titik-titik itu.
"Yang riil memang ada, rusak tapi kami tidak bisa memastikan siapa pelakunya," ucapnya.
Alhasil, cara paling realistis yang kini bisa dilakukan adalah dengan meminta kepada setiap juru parkir melakukan pengawasan.
"Kami akan beri peringatan kepada juru parkir, yang bertugas harusnya ikut menjaga," katanya.
