Dalam mengelola dan merencanakan hidup untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan bisa dilakukan dengan cara membuat peta kehidupan, ucap mantan anggota DPR RI Marwah Daud Ibrahim. "Peta kehidupan merupakan kekuatan sebuah perencanaan atau 'power of planning' yang bisa dibuat oleh setiap orang. Peta kehidupan ini seperti sebuah navigasi pada pesawat terbang yang memudahkan manusia dalam merencakan hidupnya beberapa tahun ke depan," tegas Marwah di Malang belum lama ini. Peta kehidupan, merupakan kekuatan sebuah perencanaan yang didalamnya ada sikap positif, optimistis dan percaya diri. Pembuatan peta kehidupan, lanjutnya, bisa dilakukan dengan membuat sebuah daftar perencanaan lima atau sepuluh tahun yang akan datang secara rinci. Seperti, sepuluh tahun nanti kita menjadi siapa, menghasilkan apa dan telah melakukan apa. Dengan menyusun peta kehiduan secara rinci, kata Marwah, juga akan mengajarkan manusia untuk fokus dalam memanajemen waktu karena selain kehidupan, waktu merupakan kekayaan paling berharga dalam hidup manusia. Menurut dia, waktu merupakan kekayaan dalam hidup karena waktu tidak akan pernah datang kembali. "Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu dan rencanakan hidup untuk mengelola masa depan," tegasnya. Marwah juga menyatakan, perlunya membangun karakter bagi mahasiswa, pimpinan kampus atau pun para pemimpin daerah dan bangsa dalam membentuk sikap yang tercakup dalam empat dimensi hidup, yaitu iman, ilmu, amal dan akhlak. "Orang bisa saja mempunyai keterampilan yang sangat bagus, namun juga harus diikuti oleh aspek akhlak, iman, ilmu, dan emosional," kata Pembina Lembaga Training Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan (MHMMD) tersebut. Lebih lanjut Marwah mengatakan, untuk mencapai hidup sukses, ada 12 langkah yang harus dilakukan. Tiga langkah usaha menemukan potensi diri, dua langkah mencari peluang, tiga langkah mengelola hidup, dan tiga langkah merencanakan masa depan. Aktivis Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu juga menyarankan untuk selalu bersyukur terhadap semua kehidupan yang dijalani semua ini. Kekayaan yang paling berharga, menurut Marwah, adalah tarikan napas. "Hidup kita inilah yang paling berharga," tegasnya. (*)
Berita Terkait
Marwah: Kelola Hidup dengan Peta Kehidupan
13 September 2012 17:12
Menilik NHK, cara kerja, iuran, dan loyalitas masyarakat Jepang
30 Januari 2026 09:15
Industrialisasi pesisir dan ikhtiar keadilan biru bagi nelayan
28 Januari 2026 20:31
Menjaga ketahanan pangan mulai dari bangku sekolah
28 Januari 2026 15:38
Mengapa Polri harus tetap di bawah presiden?
28 Januari 2026 08:43
Mas Rio dan Besuki; Keberanian membangun kembali jalur sejarah
27 Januari 2026 19:09
Revitalisasi Museum Tengger jaga eksistensi warisan budaya Tengger
27 Januari 2026 11:46
