Malang - Tak kunjung membaiknya prestasi sepak bola Indonesia dikancah internasional dan maraknya pendirian sekolah sepak bola (SSB) di Tanah Air mengusik pemerhati persepakbolaan Indonesia Timo Schuenemann.
Timo yang juga berprofesi sebagai pelatih profesional itu mengaku senang dengan adanya kompetisi sepak bola usia dini terbesar di Tanah Air yang dihelat oleh Aqua Danone National Cup (DNC) sejak 12 tahun lalu itu mampu memompa kegairahan baru dalam dunia sepak bola.
"Keberadaan kompetisi DNC ini mampu menggairahkan SSB untuk tetap konsisten memacu prestasinya demi meraih mimpi bertanding di ajang internasional, bahkan sekarang muncul SSB-SSB baru di seluruh penjuru Tanah Air," kata Timo disela-sela Training Camp Timnas U-12 di Batu.
Pelatih berkebangsaan Jerman yang lahir di Pare, Kediri itu mengaku tidak canggung ataupun merasa "kerdil" ketika diminta untuk melatih tim yang dihuni oleh anak-anak usia dini (10-12 tahun), justru ia mengaku sebagai kehormatan baginya ikut ambil bagian dalam memajukan persepakbolaan di Indonesia.
Tanggung jawab dan kepercayaan yang dibebankan padanya selalu dikerjakan secara ikhlas, tulus dan 100 persen. "Dimana pun dan apapun pekerjaan atau tanggung jawab yang diserahkan pada saya tak pernah saya sia-siakan termasuk dalam membimbing dan mendidik anak-anak di SSB maupun di Timnas U-12," tegasnya.
Selain mendirikan SSB di Malang dan melatih anak-anak usia dini yang dipersiapkan untuk menghadapi tim-tim tangguh diajang Final Dunia DNC 2012, Timo juga menulis buku yang berkaitan dengan sepak bola yang menjadi olahraga "rakyat".
Sebagai bentuk kecintaannya terhadap sepak bola di Tanah Air, Timo tak segan-segan menerjuni dunia sepak bola anak-anak melalui SSB yang nantinya diharapkan menjadi pesepakbola tangguh dan berkualitas dunia.
"Saya berharap SSB-SSB di Indonesia ini memiliki wadah yang lebih banyak lagi untuk menguji kemampuan anak asuhnya. Tidak hanya DNC, tapi lebih banyak lagi yang peduli dengan perkembangan persepakbolaan di Tanah Air, hanya saja kalau sepak bola ini sudah mapan, jangan dicampur adukkan dengan politik," tegasnya.(*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026