Surabaya - Bank Indonesia (BI) optimistis deposito menjadi instrumen investasi menjanjikan selama tahun 2012, karena produk penanaman modal masyarakat tersebut memiliki tingkat keamanan lebih dibandingkan ragam investasi lainnya.
"Tren pertumbuhan nilai deposito seluruh perbankan di Jatim bisa dilihat selama tiga tahun terakhir," kata Deputi Pemimpin Bank Indonesia (BI) Surabaya Bidang Perbankan, Sarwanto, di Surabaya, Jumat.
Ia mengungkapkan, selama tahun 2011 kontribusi besaran deposito terhadap penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan di Jatim menempati peringkat kedua setelah tabungan di posisi pertama yang mencapai Rp111,70 triliun.
"Lalu, peringkat ketiga dari sumbangan terhadap DPK tahun 2011 dikontribusi oleh perolehan giro senilai Rp40,99 triliun," ujarnya.
Pada tahun 2011, jelas dia, DPK perbankan umum dan BPR di Jatim mencapai Rp254,65 triliun atau meningkat dibandingkan tahun 2010 mencapai Rp218,75 triliun.
"Jumlah tersebut juga lebih besar dibandingkan penghimpunan DPK di Jatim selama tahun 200n yang mencapai Rp197,16 triliun," katanya.
Sementara, tambah dia, selama tahun 2010 kontribusi deposito juga berada di posisi kedua dari seluruh DPK di Jatim yang saat itu membukukan Rp218,75 triliun.
"Komposisinya, peringkat pertama ditempati tabungan dengan nilai Rp92,02 triliun. Disusul, deposito senilai Rp90,87 triliun dan giro Rp35,86 triliun," katanya.
Kalau pada tahun 2009, lanjut dia, besaran sumbangan deposito ke DPK yang dihimpun perbankan di Jatim justru menempati posisi teratas senilai Rp84,86 triliun.
"Kemudian, tabungan mencatatkan Rp77,05 triliun dan giro Rp35,25 triliun," katanya.(*)
Editor : Akhmad Munir
COPYRIGHT © ANTARA 2026