Surabaya - Ratusan sopir bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) jurusan Surabaya-Semarang menggelar demonstrasi di Balai Kota Surabaya, Selasa, mendesak pemkot setempat membuka akses bus jurusan mereka di Terminal Purabaya. Para sopir bus tersebut mendatangi Balai Kota dengan dengan menggunakan sekitar 10 bus. Mereka menggelar orasi dan membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutan mereka di antaranya "tidak ada eliminasi jalur pantura khususnya Purabaya", "Bu Risma kalau ambil keputusan jangan sepihak," dan lainnya. Ketua Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Surabaya Iswahyudi mengatakan kebijakan Pemkot Surabaya yang melarang bus jurusan itu masuk ke Terminal Purabaya dianggap mematikan penghasilan para sopir. "Selama ini para sopir diharuskan berhenti dan mengambil penumpang di Terminal Osowilangon yang sepi penumpang," katanya. Menurut dia, pihaknya sebenarnya mendukung upaya Pemkot Surabaya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor transportasi, hanya cara yang dilakukan Pemkot Surabaya salah. "Semua itu tidak sekedar membalikkan tangan. Pemkot hanya peduli dengan apa yang diinginkan paguyupan di terminal Osowilangun," katanya. Sebenarnya, lanjut dia, pihaknya menyetujui dipindah ke terminal Osowilangun asalkan sarana dan infrastruktur di terminal setempat seperti halnya terminal pemberangkatan dibenahi secara representatif dan kalau bisa ditambah. "Seperti halnya terminal pemberangkatan hanya ada empat yakni Bojonegoro, Tuban, Semarang dan Malang," katanya. Mendapati hal itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya Eddi mengatakan untuk mengakomodir kepentingan para sopir tersebut akan digelar rapat dengar pendapat dengan DPRD Surabaya. "Dalam rapat tersebut semua pihak yang terlibat akan diundang termasuk Dishub, pemkot, Organda Jatim, Organda Surabaya, DLLAJ Jatim, Paguyupan di Osowilangun dan para sopir," katanya. Rencananya rapat dengar pendapat tersebut akan digelar pada Jumat (24/2). "Kami berharap ada solusi terkait persoalan ini," katanya. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026