Palembang - Sekjen Parlemen Negara-negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam/OKI (PUIC) Mahmud Erol Kilic mengajak negara-negara Islam di dunia untuk konsisten mendukung Palestina dalam menghadapi kezaliman Israel. "Kita harus berada bersama dalam menghadapi Israel, menghentikan perluasan wilayah Yahudi dan penghentian blokade di Jalur Gaza," ujarnya saat berpidato pada Konferensi ke-7 PUIC yang diselenggarakan pada 30-31 Januari di Palembang. PUIC, ujarnya, mendukung penuh Palestina sebagai negara yang berdaulat dan bisa berperan aktif sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah sebelumnya Palestina diterima sebagai anggota di badan PBB Unesco. Hal senada juga ditegaskan Presiden PUIC Marzuki Alie bahwa PUIC harus bersikap tegas menolak berbagai kejahatan Israel, termasuk penangkapan Ketua Parlemen Palestina Dr. Aziz Dweik. "PUIC sudah seharusnya memberikan dukungan penuh untuk pembebasan pimpinan dan anggota parlemen Palestina dari penjara Israel dan mengutuk keras kejahatan mereka," ujar Marzuki Alie. Selain itu, menurut Sekjen PUIC, negara-negara Islam menginginkan terciptanya zona bebas senjata pemusnah massal. Karena itu, PBB harus memaksa Israel agar mematuhi resolusi PBB terkait senjata nuklir. "Kita menekankan hak semua negara untuk mengembangkan energi nuklir untuk damai, serta memerangi terorisme baik yang dilakukan oleh negara maupun sektarian muslim muslim," katanya. Terkait radikalisme yang mengatasnamakan agama, Kilic menyatakan dukungannya terhadap upaya berbagai negara dalam memerangi diskriminasi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama itu. Menurut dia, perlu dibangun dialog yang mendalam antara Islam dan non-Islam. Sementara itu pada kesempatan yang sama, pimpinan delegasi Parlemen Iran yang juga Presiden PUIC pertama Ali Akbar Nateg Nouri menyatakan bahwa banyak negara muslim yang lupa belajar pada masa lalu hingga akhirnya tertinggal dalam persaingan dengan bangsa-bangsa lain terutama Barat. Ia mengkritisi negara Islam yang belum mampu menghadirkan demokrasi bagi rakyatnya. "Kita sudah sangat mengenal kebebasan dan demokrasi. Sekarang ini tidak ada yang bisa menghalangi para pemimpin untuk tidak memahami pesan rakyatnya, mengabaikan berarti mengabaikan kebenaran," ujarnya. Pada bagian lain pernyataannya, Ali Akbar mengecam agresi Amerika Serikat di Afganistan dan Irak yang dinilainya telah gagal dan justru membunuh ratusan ribu jiwa tidak berdosa disana. Negara-negara dunia yang tergabung dalam poros sekutu itu, menurut dia, hanya mencari keuntungan sendiri di bawah payung kebohongan dan penipuan.(*)
Berita Terkait
Komisi VII minta kolaborasi TVRI, RRI, dan ANTARA untuk Piala Dunia 2026
20 Februari 2026 18:53
Ditjenpas-ANTARA jajaki kerja sama publikasi kegiatan pemasyarakatan
19 Februari 2026 15:00
Dirut ANTARA: Peran kami sebagai rujukan cek fakta
13 Februari 2026 06:19
Kantor Berita ANTARA paparkan kontribusi saat pemulihan bencana
13 Februari 2026 06:17
Dirut Antara sebut jurnalis muda perlu perspektif global
8 Februari 2026 19:15
Kantor Berita ANTARA dorong pembinaan pers mahasiswa
8 Februari 2026 04:30
ANTARA soroti pentingnya big data dalam diseminasi informasi
7 Februari 2026 12:48
LKBN ANTARA tingkatkan kapasitas wartawan melalui UKW
6 Februari 2026 10:06
