Surabaya - Manajemen PT Bank BNI Tbk Wilayah Surabaya optimistis dapat menerbitkan 30.000 kartu kredit selama tahun 2012 melalui upaya pemberlakuan suku bunga minimal bagi pemegang kartu kredit BNI. "Tahun ini kami optimistis bisa mengeluarkan 30.000 kartu kredit setelah pada tahun 2011 bisa menerbitkan sebanyak 28.000 kartu kredit," " kata Pemimpin Bidang "Consumer" dan Ritel BNI Wilayah Surabaya, Ryanto Wisnuardy, menanggapi potensi kepemilikan kartu kredit, di Surabaya, Kamis. . Menurut dia, kini ada sekitar 250.000 kartu kredit yang menyebar di Surabaya, Ia mengatakan, penambahan kartu kredit di Kota Pahlawan juga tidak akan terpengaruh oleh imbauan Bank Indonesia (BI) tentang penurunan suku bunga kartu kredit. "Apalagi, selama ini kami sudah menerapkan bunga kartu kredit di posisi 2,8 persen. Setahu kami patokan bunganya terendah dibandingkan bank lain," ujarnya. Di sisi lain, ia percaya, rencana BI guna membatasi kepemilikan kartu kredit maksimal dua kartu kredit setiap orang juga tidak akan mempengaruhi kinerjanya ke depan. "Hal tersebut tidak banyak berbeda dengan kebijakan perusahaan kami saat ini menyusul adanya pengetatan siapa saja yang boleh mendapatkan kartu kredit," katanya. Ia menambahkan, apabila seorang nasabah sudah mempunyai beberapa kartu kredit dari bank lain maka orang itu tidak bisa melakukan "apply" untuk kartu kredit BNI. "Sementara, terkait pencapaian transaksi kartu kredit selama 2012 kami targetkan bisa membukukan Rp2,2 triliun di kota ini. Besaran tersebut meningkat sekitar 30 persen dibandingkan realisasi tahun 2011," katanya. Keoptimitisan itu dipicu prospek bisnis kartu kredit kian cerah seiring berbagai gaya hidup pasar perbankan Surabaya yang memakai kartu kredit sebagai tren pembayaran alternatif. "Akibatnya bisnis tersebut tetap berkembang meskipun BI berupaya melakukan serangkaian pembatasan guna melindungi nasabah kartu kredit," katanya. Sementara itu, pencapaian transaksi kartu kredit mayoritas untuk pembelanjaan aneka kebutuhan sehari-hari dan "fashion". Ada pula transaksi pembelian barang-barang TI seperti telepon seluler yang kinerjanya semakin tumbuh. "Bahkan, kontribusi transaksi produk 'gadget' bisa mencapai 25 persen dari total transaksi yang dibukukan," katanya. Di samping itu, imbuh dia, hal tersebut juga didukung kepemilikan sekitar 5.000 unit mesin "electronic data capturer/EDC" yang menyebar lebih dari 1.800 outlet mitra BNI. Kalau skala nasional jumlah "EDC"-nya mencapai 30.000 unit dengan menggaet 20.000 outlet mitra.(*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026