Krisis energi, tampaknya kini telah menjadi kekhawatiran banyak negara. Tidak hanya negara yang tidak memiliki cadangan energi fosil, tapi juga negara-negara yang selama ini mengeksploitasi sumber energi tersebut.
Sumber energi fosil yang selama ini dieksploitasi dan dikonsumsi banyak negara diantaranya adalah batubara, minyak bumi dan gas bumi.
Cadangan sumber energi tersebut, diakui banyak pihak, sangat terbatas. Bahkan, untuk mendapatkannya juga tidak mudah.
Banyak negara menempatkan sumber energi fosil yang merupakan non-renewable resources atau non-renewable energy, sebagai sumber energi utama dan favorit.
Padahal, mereka sadar bahwa cadangan sumber energi tersebut semakin menipis, seiring dengan gencarnya eksploitasi dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat.
Dampak yang sudah terlihat saat ini seperti harga minyak yang terus naik mengikuti harga dunia, sehingga subsidi menjadi salah satu pilihan agar rakyat tidak terlalu terbebani.
Ketersediaan cadangan energi fosil di Tanah Air saat ini bahkan diperkirakan sudah sangat menipis, hanya cukup untuk 23 tahun ke depan. Sementara pertumbuhan konsumsi energi tak terbarukan itu, konon mencapai tujuh persen per bulan.
Oleh karena itu, pemerintah pun menyatakan, pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) harus segera direalisasikan. Sebab, sumber energi tersebut merupakan sumber energi yang dapat dijadikan andalan pada masa mendatang.
Energi alternatif yang kini belum diberdayakan secara maksimal diantaranya energi angin, energi panas bumi, energi sinar matahari, energi gelombang pasang surut laut, energi air, energi hujan, energi biogas, energi nuklir, energi minyak tumbuhan (biodiesel) dan lain sebagainya
"Energi baru terbarukan sangat penting bagi Indonesia. Kita tidak bisa lagi menunda pengembangannya karena hal itu untuk masa depan," kata Anggota Komisi Energi Gelombang Laut dari Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI), Eko Prasetyo ST MT.
Potensi Laut
Sejalan dengan pemikiran tersebut, kata Magister Teknik Kelautan dan Lingkungan itu, ASELI sudah menggagas cukup jauh guna mendapatkan energi baru terbarukan yang memanfaatkan potensi laut.
Laut sebagai potensi alam selama ini kurang mendapatkan perhatian dalam strategi pengembangan energi di Indonesia.
Peran laut saat ini hanya sebagai jalur transportasi yang mengangkut pasokan bahan bakar berupa batu bara dan bahan bakar minyak lainnya. Laut baru sebatas objek dalam pengembangan energi di Indonesia, perannya tak lebih dari sebatas pelengkap.
Padahal, laut memiliki sumber energi alternatif yang menjanjikan. Laut Indonesia diperkirakan mampu menghasilkan energi listrik mencapai 6.000 Mega Watt (MW).
Secara teoritis total sumberdaya energi laut Indonesia sangat melimpah, meliputi energi panas laut, gelombang laut dan arus laut. Potensi sumberdaya tersebut diperkirakan mencapai 727.000 MW.
Namun demikian, dari potensi tersebut, industri energi laut yang dinilai paling siap adalah industri berbasis teknologi gelombang dan teknologi arus pasang surut, yang potensinya mencapai 6.000 MW.
Sementara itu, dari sisi teknologi dan pembangunannya, Indonesia sudah mampu membangun pembangkit listrik dari energi laut. Indonesia juga dapat mengambil teknologi dari beberapa negara yang menerapkan hal tersebut, seperti Norwegia atau Inggris.
Investasi untuk membangun pembangkit listrik dengan energi laut, berkisar 3.000- 5.000 dolar AS per kilo watt (KW), atau 3-5 juta dolar AS per 1 MW. Investasi ini sudah termasuk instalasi dan teknologinya.
Harga listrik yang dihasilkan dari energi laut lebih murah ketimbang listrik dari bahan bakar minyak dan gas (BBM) maupun dari energi matahari.
Jadi, Indonesia mempunyai potensi energi laut yang memiliki nilai ekonomis. Diharapkan investasi ketenagalistrikan dari energi laut di masa datang semakin terbuka. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026