Malang - "Saya kecewa dengan industri pembenihan tanaman hias, terutama anggrek yang seharusnya menjadi komoditas ekspor, tapi justru terabaikan di negeri sendiri," keluh pakar teknologi benih pada Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Lita Soetopo.
Pemerintah, kata guru besar bidang ilmu teknologi pembenihan itu, sekarang masih belum menganggap penting terhadap varietas-varietas unggul tanaman hortikultura, terutama tanaman hias dan anggrek khususnya.
Menurut dia, penelitian, perakitan dan pelepasan varietas unggul tanaman hias jauh tertinggal dibandingkan dengan produk hortikulutura lainnya, seperti buah-buahan dan sayuran. Padahal, plasma nutfah untuk tanaman hias melimpah ruah.
Akibatnya, anggaran untuk penelitian varietas tanaman hias juga sangat minim."Kata para pemangku jabatan dan kebijakan, tanaman hias bukan menjadi prioritas karena saat ini masyarakat kita masih perlu pangan, sehingga konsentrasi penelitian bibit unggul juga terfokus untuk komoditas pangan," katanya.
Bahkan, lanjutnya, kegiatan penelitian tanaman hias di Balai Penelitian pun tidak diarahkan untuk menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi.
Seharusnya, jika pemerintah tidak mampu bekerja sendirian untuk memenuhi kebutuhan varietas unggul dan benih bermutu tanaman hortikultura, perusahaan swasta bisa mengambil peran.
Oleh karena itu, perlu ada revitalisasi industri pembenihan tanaman hias, khususnya anggrek agar bisa menjadi komoditas ekspor unggulan karena peluangnya cukup besar, karena anggrek yang dikenal pasar dunia sebagian besar merupakan hasil persilangan anggrek spesies Indonesia.
Hanya saja, kata Lita, sampai saat ini Indonesia masih belum mampu menjadi produsen anggrek dunia, karena Indonesia belum mampu memproduksi anggrek berkualitas secara massal dan kontinyu serta berdaya saing di pasaran.
Pasar internasional mensyaratkan benih anggrek yang berasal dari perbanyakan secara klonal. Namun, kenyataannya di Indonesia saat ini, benih anggrek yang berasal dari kultur jaringan umumnya masih sebatas tukang jahit saja.
"Kalau sampai sekarang kita belum mampu ekspor tanaman hias termasuk anggrek, itu karena sistem birokrasi kita yang juga panjang. Sampai saat ini kami tidak tahu berapa lama pengurusan dan biaya untuk ekspor anggrek," tegasnya.
Sejak tahun 1998 hingga 2011 hanya ada 15 jenis varietas tanaman hias yang dilepas. Banyak plasma nutfah tanaman hias Indonesia yang belum digali dan dikembangkan menjadi varietas unggul dan berdaya saing tinggi.
"Saat ini yang terjadi justru perambahan secara besar-besaran untuk tanaman hias, seperti anggrek dan palem-paleman dari hutan, tanpa upaya serius untuk penangkaran pembenihannya. Lama-lama kan punah spesies asli negeri ini," katanya. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026