Bagi Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang Asyari, menurunnya prestasi berbagai cabang olahraga di Tanah Air tidak lepas dari adanya politisasi oleh para petinggi pemerintahan. "Saya berharap semua pihak menjadikan Hari Olahraga Nasional (Haornas) kali ini sebagai pintu peningkatan prestasi, bukan sebaliknya, sebagai hari kemunduran olahraga nasional," tegas Asyari. Olahraga di Tanah Air akan bisa menorehkan prestasi gemilang, jika tidak ada politisasi. Semua yang berkaitan dengan olahraga dipolitisasi. "Kondisi ini adalah kegagalan Menpora karena program tidak jelas, meski dana yang dikucurkan untuk pengembangan olahraga di Tanah Air dari APBN cukup besar," ucapnya. Lebih-lebih, tegasnya, sepak bola yang menjadi olahraga paling populer dan merakyat di Tanah Air, justru prestasinya semakin terpuruk. Padahal, tim nasional era tahun 1980-an sangat bagus dan diperhitungkan oleh negara lain. Semua itu, menurut Asyari, karena tidak jelasnya program dan tidak tegasnya pengurus PSSI, apalagi pengurus yang baru terbetuk melalui Kongres beberapa bulan lalu. Para pengurus hanya sibuk dengan rebutan posisi dan jabatan saja. Jika olahraga di Tanah Air ingin berprestasi seperti beberapa dekase silam yang mampu menorehkan medali di ajang Olimpiade maka harus ada gerakan moral di semua cabang olahraga yang bersih dari KKN dan politik. "Selama politik ikut 'bermain' dalam kancah olahraga nasional, selama itu pula prestasi yang diharapkan tidak akan pernah terwujud, bahkan akan semakin tenggelam dibenamkan oleh negara-negara pesaing," ujarnya. Oleh karena itu, momentum Haornas 2011 jadikanlah sebagai awal kebangkitan olahraga nasional yang nantinya mampu melibas lawan-lawannya di ajang internasional."Jangan permalukan Indonesia yang memiliki penduduk ratusan juta, tapi tidak mampu mengalahkan negara kecil yang menjadi pesaing," tuturnyai.


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026