Surabaya (ANTARA) -

Keberadaan museum di Surabaya, Jawa Timur, mulai meninggalkan citra lama sebagai ruang statis yang membosankan dan beralih menjadi ruang edukasi publik yang interaktif.

Perubahan tersebut terlihat dari cara museum menyajikan sejarah yang tidak lagi sekadar menampilkan koleksi, melainkan dikemas melalui teknologi visual, audio-visual, serta pengalaman ruang yang imersif.

Penyajian yang lebih hidup tersebut, sekaligus terintegrasi dengan ruang publik dan kawasan urban yang menjadikan kunjungan bersifat edukatif dan relevan dengan pola aktivitas masyarakat di wilayah perkotaan.

Berikut rekomendasi museum di Surabaya yang menyajikan pengalaman belajar sejarah yang lebih interaktif dan relevan.


1. Museum 10 Nopember

Museum 10 Nopember yang berada di dalam kompleks Tugu Pahlawan, tepatnya di Jalan Pahlawan, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, menghadirkan pengalaman belajar sejarah dengan pendekatan yang lebih imersif. 

Dari sisi penyajian, museum ini menampilkan diorama statis yang dilengkapi penjelasan audio-visual, sehingga pengunjung tidak hanya melihat adegan, tetapi juga memahami konteks peristiwa secara lebih utuh. 

Selain itu, museum ini juga memajang koleksi autentik berbagai senjata yang digunakan dalam pertempuran 10 Nopember.

Museum ini juga memiliki diorama elektronik di auditorium yang pada momen tertentu menayangkan film dokumenter pertempuran Surabaya. 

Salah satu daya tarik utama adalah rekaman asli pidato Bung Tomo yang dapat didengarkan langsung, memperkuat nuansa historis sekaligus membangun keterhubungan emosional pengunjung dengan semangat perjuangan.
 

Sejumlah pelajar melihat patung yang merepresentasikan perjuangan heroik rakyat dalam pertempuran 10 November dipamerkan di Museum Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA/Widya Chandrawati)

 

2. Museum Pendidikan

Museum Pendidikan yang berlokasi di Jalan Genteng Kali No. 10, Kecamatan Genteng, Surabaya, menempati bangunan eks Sekolah Taman Siswa dengan arsitektur kolonial yang masih terjaga, sekaligus berada dalam satu kawasan dengan Taman Ekspresi dan wisata Kalimas, sehingga cocok sebagai destinasi edukatif bagi anak-anak usia sekolah.

Di dalamnya, pengunjung diajak menelusuri perjalanan intelektualitas bangsa dari era pra-aksara hingga modern melalui berbagai koleksi, mulai dari evolusi alat tulis seperti sabak dan grip hingga komputer tabung generasi awal. 

Tidak hanya itu, nuansa sekolah tempo dulu juga terasa kuat melalui keberadaan elemen asli seperti bel sekolah dan ruang kelas yang pernah digunakan.

Pengalaman berkunjung semakin menarik dengan konsep wisata malam (night museum), di mana museum buka hingga pukul 21.00 WIB.  

Pencahayaan bangunan tua di kawasan Genteng Kali menghadirkan suasana estetik yang diminati kalangan muda, menjadikan kunjungan tidak hanya sarat nilai edukasi, tetapi juga terasa lebih hidup dan rekreatif dalam satu kawasan yang terintegrasi.
 

Berbagai koleksi perlengkapan sekolah era lama, mulai dari seragam hingga buku pelajaran, yang dipamerkan di Museum Pendidikan Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA/Widya Chandrawati)

 

3. Museum Surabaya (Siola)

Museum Surabaya yang berada di lantai 1 Gedung Siola, Jalan Tunjungan No. 1, Kecamatan Genteng, menjadi pusat memori kolektif kota yang merekam perjalanan Surabaya dari masa ke masa. 

Museum ini tidak hanya menampilkan sejarah kepemimpinan Wali Kota Surabaya, tetapi juga menghadirkan berbagai artefak keseharian warga, seperti becak dan angkong kuno, hingga arsip kependudukan sejak abad ke-19 yang memberikan gambaran konkret tentang kehidupan masyarakat tempo dulu.

Konsep one-stop heritage visit terlihat dari integrasinya dengan Mal Pelayanan Publik di dalam Gedung Siola, sehingga pengunjung dapat menyaksikan langsung aktivitas layanan publik modern dalam satu lokasi. 

Setelah keluar dari museum, pengunjung langsung terhubung dengan kawasan Jalan Tunjungan yang menjadi pusat aktivitas kota, menghadirkan kombinasi antara pengalaman belajar sejarah di dalam ruang museum dan gaya hidup urban melalui kafe serta kuliner kaki lima di sekitarnya.
 

Deretan poster propaganda dan informasi sejarah yang menggambarkan dinamika Kota Surabaya pada masa pascaproklamasi dipamerkan di Museum Surabaya (Gedung Siola), Jawa Timur. (ANTARA/Widya Chandrawati)

 

4. Museum Olahraga

Museum Olahraga yang berlokasi di Jalan Indragiri No. 6, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, berada dalam satu kompleks dengan Gelora Pancasila dan Lapangan Thor, menghadirkan perspektif berbeda dengan mengangkat sejarah prestasi olahraga sebagai bagian dari identitas bangsa.

Museum yang diresmikan pada 2021 ini menampilkan sisi heroik dari bidang non-militer, dengan menghadirkan perjalanan atlet Indonesia dalam meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Koleksi yang ditampilkan memberikan sentuhan emosional, mulai dari medali asli, sepatu, hingga jersey yang pernah digunakan di ajang internasional, termasuk milik Alan Budikusuma dan Minarti Timur. 

Penataan koleksi yang modern, seperti perkembangan teknologi bola dan raket dari masa ke masa, membuat museum ini terasa dinamis dan jauh dari kesan kuno, sekaligus relevan bagi generasi muda.

Setelah melihat sejarah kemenangan para atlet di dalam museum, pengunjung dapat langsung berolahraga atau berlari di Lapangan Thor yang berada di area yang sama, menjadikan kunjungan tidak hanya bersifat edukatif tetapi juga mendorong aktivitas fisik dalam konsep sport tourism.
 

Koleksi seragam dan medali karate milik atlet Jeane Mariane Taroreh yang dipamerkan di Museum Olahraga Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA/Widya Chandrawati)

Dari sisi akses, kunjungan museum dapat direncanakan melalui laman tiketwisata.surabaya.go.id untuk melihat jadwal dan pemesanan. Jam operasional umumnya pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, kecuali Museum Pendidikan yang buka hingga pukul 21.00 WIB. 

Tarif masuk berkisar Rp5 ribu hingga Rp8 ribu, sementara Museum Surabaya tidak dikenakan biaya. Pelajar dan mahasiswa juga dapat mengakses seluruh museum secara gratis dengan menunjukkan kartu identitas yang masih berlaku.

Kemudahan akses, harga yang terjangkau, serta jam operasional yang fleksibel tersebut memperkuat peran museum di Surabaya sebagai ruang belajar yang inklusif dan relevan bagi generasi muda dalam memahami sejarah dan perkembangan kota.

 

*) Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur



Pewarta: Widya Chandrawati *)
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026